Kebangkitan Como 1907: Jejak Investor Indonesia dan Revolusi Cesc Fabregas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348571/original/083529900_1789449720-000_C7XZ9WU.jpg)
Klub sepak bola Italia, Como 1907, kini berdiri tegak sebagai salah satu kekuatan baru yang disegani di pentas Liga Champions Eropa.
Keberhasilan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari fondasi kuat yang dibangun di bawah kendali investor asal Indonesia, Djarum Group. Melalui tangan dingin Presiden klub, Mirwan Suwarso, dan strategi taktis Cesc Fabregas, mereka bertransformasi dari klub medioker menjadi daya tarik utama Serie A.
Puncak dari proyek ambisius ini terlihat jelas saat Como menghancurkan RB Leipzig dengan skor telak 4-1 dalam debut mereka di fase liga Liga Champions di Stadio Sinigaglia. Kemenangan mutlak ini sekaligus membuktikan bahwa tim asuhan Fabregas tidak merasa gentar menghadapi ketatnya kompetisi tertinggi antar-klub Eropa.
Di balik performa apik di lapangan, manajemen klub menunjukkan kelasnya dengan aksi humanis yang mencuri perhatian dunia. Mereka merelakan kursi kehormatan bagi para suporter setia yang telah mendukung klub sejak era 1950-an, sebuah gestur yang menggambarkan identitas emosional Como.
Model bisnis yang mereka terapkan terbilang unik, mengadopsi pola yang kerap disebut sebagai pendekatan Disney untuk menjaga keberlanjutan klub. Dengan memanfaatkan keindahan Danau Como sebagai pusat gaya hidup, klub tidak hanya bergantung pada hak siar televisi, melainkan merambah sektor retail, fashion, dan hospitality.
Strategi transfer pemain pun dilakukan dengan perhitungan matang, salah satunya terlihat pada sosok Nico Paz yang didatangkan dari Real Madrid. Meski diincar klub raksasa seperti Tottenham dengan tawaran 70 juta euro (sekitar Rp1,2 triliun), Como berhasil mengamankan aset berharga tersebut demi mendukung proyek jangka panjang.
Peran Cesc Fabregas sebagai pelatih menjadi elemen vital yang menyatukan seluruh elemen visi klub. Meski sempat dirumorkan akan hengkang, Fabregas memilih setia membangun warisan sepak bola yang menurut manajemen, akan tetap abadi meski pelatih berganti.
Investasi besar Djarum Group sejak 2019 memberikan stabilitas finansial yang memungkinkan pembenahan infrastruktur stadion sesuai standar UEFA. Kombinasi antara kekuatan modal, visi komersial yang progresif, serta filosofi sepak bola yang jelas menjadikan Como 1907 sebagai model pengelolaan klub modern.
Kehadiran bintang seperti Moise Kean kian mempertegas keseriusan klub dalam bersaing di kasta tertinggi Italia maupun Eropa. Bagi Como, Liga Champions bukanlah tujuan akhir, melainkan gerbang awal dari ambisi yang jauh lebih besar di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor













