Meksiko Bersiap Gelar Piala Dunia di Tengah Protes dan Ancaman Keamanan Kartel

Meksiko tengah bersiap menyambut perhelatan Piala Dunia di tengah meningkatnya ketegangan sosial dan aksi protes di ibu kota negara tersebut. Suasana perayaan terancam terganggu setelah pengunjuk rasa memblokir akses ke alun-alun utama yang sedianya menjadi pusat perayaan bagi para penggemar sepak bola.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menghadapi kritik keras terkait besarnya anggaran belanja pemerintah untuk turnamen tersebut. Banyak pihak menilai prioritas seharusnya diberikan pada kebutuhan sosial mendesak, bukan pada penyelenggaraan kompetisi olahraga internasional.
Hingga saat ini, lokasi perayaan penggemar di Zocalo masih terancam karena aksi unjuk rasa serikat guru yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan. Jika akses tetap tertutup, pemerintah telah menyiapkan 18 lokasi alternatif agar warga tetap dapat menyaksikan pembukaan secara gratis.
Federasi Sepak Bola Meksiko memproyeksikan pendapatan sebesar USD 3 miliar atau setara dengan Rp48,6 triliun dari sektor hotel, restoran, dan tempat olahraga. Angka ini menjadi pendorong utama bagi pemerintah untuk memastikan turnamen berjalan lancar meskipun menuai kontroversi.
Di sisi lain, keamanan menjadi perhatian utama setelah aksi kekerasan kartel sempat mengguncang Guadalajara pada Februari lalu. Otoritas setempat kini telah mengerahkan lebih dari 100.000 personel gabungan dari kepolisian, Garda Nasional, dan militer di tiga kota tuan rumah, yaitu Mexico City, Guadalajara, dan Monterrey.
Kooordinator keamanan Jalisco, Alfonso Briseno, menegaskan bahwa situasi di wilayahnya telah kembali normal dan menjamin keselamatan bagi para wisatawan maupun delegasi asing. Meski demikian, kehadiran petugas bersenjata lengkap di sekitar stadion menjadi pemandangan umum untuk meredam kekhawatiran warga.
Para keluarga korban yang hilang di Meksiko, yang jumlahnya mencapai lebih dari 130.000 orang, juga memanfaatkan momentum ini untuk menyuarakan aspirasi mereka. Mereka berharap pemerintah lebih fokus menangani krisis kemanusiaan ketimbang sekadar mempercantik kota demi turnamen.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor











