Perjuangan Fiendiziya Gwen Fernandes di Audisi Umum PB Djarum 2026

Gemerlap arena bulu tangkis di Kudus, Jawa Tengah, menjadi saksi perjuangan Fiendiziya Gwen Fernandes, atlet cilik berusia 10 tahun yang jauh-jauh datang dari Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Ia memberanikan diri tampil dalam ajang Audisi Umum PB Djarum 2026 demi mengejar mimpi menjadi pemain profesional.
Pengalaman ini menjadi debut perdana bagi Gwen di panggung pencarian bakat bergengsi tersebut. Ia tidak sendirian karena ditemani oleh lima rekan atlet lainnya dari klub asal mereka.
Gwen kini menempuh pendidikan di SDN 3 Taskombang, Klaten, sebagai bagian dari upayanya meniti karier atlet sejak dini. Gadis kecil ini telah menetap di asrama PB Mataram Raya di Sleman, Yogyakarta, selama enam bulan terakhir.
Jarak ribuan kilometer yang memisahkan ia dengan orang tuanya di Kepulauan Riau bukan menjadi penghalang. Keputusan ini diambil demi mendapatkan porsi latihan yang lebih intensif dan terukur.
Dukungan orang tua, terutama sang ayah, menjadi bahan bakar utama motivasi Gwen. Ia secara lugas mengakui bahwa keinginan untuk bergabung dengan PB Djarum adalah mandat dari ayahnya.
Menurutnya, sang ayah sangat berharap putrinya mampu menembus level persaingan bulu tangkis dunia. Keinginan itu sejalan dengan kekaguman Gwen terhadap rekam jejak PB Djarum sebagai salah satu klub besar yang rajin mencetak juara.
Rangkaian seleksi ini menuntut kesiapan fisik dan mental yang luar biasa. Gwen menjalani rutinitas latihan dua kali dalam sehari dengan porsi yang sangat disiplin.
Ia pun harus menjaga pola makan secara ketat. Dirinya berkomitmen menghindari gorengan, makanan pedas, dan minuman dingin agar kondisi tubuh tetap prima saat bertanding.
Tahap screening yang berlangsung pada 9 hingga 10 September telah dilewati dengan berbagai tantangan di lapangan. Gwen merasakan perbedaan tingkat kesulitan lawan yang dihadapi di Kudus dibandingkan dengan turnamen di daerah asalnya.
Atmosfer audisi yang kompetitif sempat membuatnya merasa grogi sebelum turun bertanding. Namun, ia memiliki cara unik untuk menenangkan diri di tengah tekanan pertandingan yang sengit.
Ia kerap berdoa dan melakukan ritual berteriak usai meraih poin untuk membangkitkan rasa percaya diri. Strategi ini merupakan pelajaran berharga yang diwariskan oleh ayahnya.
Gwen menjadikan legenda bulu tangkis Kevin Sanjaya sebagai sosok idola yang memotivasi langkahnya. Ia berharap dedikasi yang diberikan selama di asrama mampu membawanya meraih Super Tiket dalam tahap turnamen yang dijadwalkan pada 11 hingga 13 September.
Bagi atlet usia dini, audisi ini merupakan pijakan awal untuk memahami dunia profesional. Kesiapan mental seperti yang ditunjukkan Gwen menunjukkan potensi besar yang dimiliki generasi muda bulu tangkis Indonesia saat ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












