Collaborative Fund Ikuti Jejak Thrive Capital Berinvestasi di Klub Sepak Bola D.C. United

Firma modal ventura yang berbasis di New York, Collaborative Fund, resmi mengambil kepemilikan saham di klub sepak bola D.C. United. Langkah ini menandai keterlibatan firma tersebut tidak hanya pada tim, tetapi juga pada stadion Audi Field yang menjadi markas mereka.
Kesepakatan ini menjadi sorotan karena pola investasi yang unik di dunia olahraga profesional. Collaborative Fund mengikuti jejak Thrive Capital yang beberapa bulan lalu mulai merambah kepemilikan aset olahraga melalui dana khusus.
Tren ini berbeda dengan cara lama yang biasanya didominasi oleh kekayaan pribadi pengusaha teknologi atau perusahaan ekuitas swasta. Contohnya, keluarga Vinod Khosla baru-baru ini membeli Seattle Seahawks senilai USD 9,6 miliar atau sekitar Rp149 triliun, sebuah transaksi yang murni mengandalkan kekayaan individu.
Sementara itu, perusahaan ekuitas swasta seperti Sixth Street atau Ares telah lama menanamkan modal di berbagai klub besar global. Mereka cenderung mencari keuntungan jangka panjang melalui struktur kepemilikan tradisional, berbeda dengan pendekatan yang kini dirintis oleh firma modal ventura.
Collaborative Fund memiliki strategi yang cukup spesifik dalam langkah ini. Mereka tidak membuat entitas terpisah, melainkan menggunakan dana yang sama untuk investasi tahap awal dalam mendukung operasional tim dan stadion.
Pendiri sekaligus mitra pengelola Collaborative Fund, Craig Shapiro, memandang sebuah waralaba olahraga sebagai produk konsumen terbaik. Menurut dia, D.C. United memiliki basis penggemar setia selama puluhan tahun yang menjadi fondasi kuat untuk pengembangan bisnis.
Shapiro melihat momentum positif pada sepak bola Amerika Serikat, mulai dari dampak penyelenggaraan Piala Dunia hingga lonjakan minat partisipasi kaum muda. Dia berencana menjadikan Audi Field sebagai tempat pameran langsung bagi portofolio perusahaan yang ia kelola.
Bayangkan, perangkat kebugaran Whoop yang mereka danai bisa digunakan oleh para penggemar di stadion atau minuman Olipop tersedia di gerai konsumsi pertandingan. Stadion tersebut akan berfungsi sebagai saluran distribusi bagi produk-produk yang didukung oleh firma mereka.
Strategi ini memanfaatkan kepadatan lalu lintas manusia di stadion sebagai sarana pemasaran yang nyata. Di era di mana kecerdasan buatan membuat segala sesuatu terasa digital, pengalaman langsung di stadion justru menjadi barang mewah yang kian berharga.
Kenaikan nilai klub sepak bola pun menjadi faktor yang memperkuat argumen investasi ini. Sebagai catatan, valuasi D.C. United tercatat melonjak tajam dari USD 35 juta pada tahun 2008 menjadi sekitar USD 785 juta atau setara Rp12,2 triliun saat ini.
Kenaikan valuasi ini didorong oleh kepemilikan aset properti di sekitar stadion dan pertumbuhan ekosistem Major League Soccer secara keseluruhan. Meski demikian, setiap transaksi ini masih harus melewati tahap persetujuan resmi dari pihak liga.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor







