Gudea Manfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Deteksi Dini Krisis Media Sosial

Setiap hari, arus percakapan di media sosial dan berbagai situs web dunia terus mengalir tanpa henti. Sebuah unggahan yang tampak sepele, baik berupa hoaks buatan kecerdasan buatan, ujaran kebencian, hingga rumor merusak, bisa dengan cepat memicu kontroversi publik yang besar.
Gudea hadir sebagai solusi untuk meredam potensi masalah tersebut sebelum berubah menjadi krisis besar bagi perusahaan. Perusahaan yang menyebut dirinya sebagai pelacak badai internet ini menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk memantau pergerakan narasi secara real-time.
Berbeda dengan platform pemantau media sosial konvensional, Gudea tidak sekadar menghitung jumlah penyebutan, tagar, atau tayangan. Mereka fokus menganalisis perilaku, hubungan, serta jalur penyebaran informasi melalui lebih dari 500 situs web dan platform utama seperti X, Reddit, dan TikTok.
CEO dan pendiri Gudea, Keith Presley, menyatakan bahwa banyak industri besar belum menyadari kemampuan proaktif yang tersedia untuk melindungi reputasi mereka. Banyak kepala komunikasi saat ini masih mengandalkan alat lama yang hanya dirancang untuk menghitung statistik dangkal.
Gudea sendiri lahir pada tahun 2023 setelah tim pendirinya, Presley, Jonathan Sperber, dan James Thomin, melihat adanya celah dalam pemantauan informasi. Mereka sebelumnya menginisiasi George Washington Initiative, sebuah organisasi nirlaba yang mengadaptasi strategi intelijen untuk memetakan penyebaran informasi domestik.
Akar teknologi perusahaan ini berasal dari upaya untuk memutus rantai narasi berbahaya yang sering kali tidak terlihat oleh alat pemantau standar. Kini, mereka memiliki hampir 40 klien dari berbagai sektor, termasuk perusahaan telekomunikasi besar, peritel global, hingga laboratorium AI ternama.
Kehadiran kecerdasan buatan generatif membuat kebutuhan akan teknologi ini semakin mendesak. Presley mencatat peningkatan signifikan aktivitas tidak autentik dalam narasi daring, di mana sembilan dari sepuluh isu yang mereka amati kini mengandung elemen buatan.
Di masa depan, Gudea berencana mengembangkan teknologi geolokasi narasi yang mampu melacak sumber percakapan hingga ke tingkat blok kota. Mereka juga berencana memberikan akses lebih luas agar perusahaan dapat menguji strategi kampanye melalui model AI mereka sebelum benar-benar diluncurkan ke publik.
Perusahaan ini baru saja meraih pendanaan tahap awal sebesar USD 7 juta, atau sekitar Rp110 miliar. Suntikan modal dari Mudita Venture Partners dan Silicon Road Ventures ini menjadikan total pendanaan Gudea mencapai sekitar USD 15 juta, atau setara dengan Rp235 miliar.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor







