Linus Torvalds Gunakan AI untuk Kembangkan Kode Kernel Linux

Linus Torvalds, tokoh kunci di balik sistem operasi Linux, baru saja mengumumkan penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam pengembangan kode kernel Linux. Langkah ini menandai perubahan sikap yang signifikan dari pria yang sebelumnya dikenal cukup skeptis terhadap peran otomatisasi dalam penulisan kode sumber perangkat lunak yang krusial.
Dalam pengajuan Git terbarunya, Torvalds secara terbuka menyatakan bahwa kode, program pengujian, hingga draf awal naskah dikerjakan dengan bantuan asisten pengodean berbasis model bahasa besar, yaitu Claude Code. Penggunaan AI ini diarahkan langsung olehnya untuk menangani isu teknis spesifik pada sistem kernel.
Masalah yang coba diselesaikan oleh Torvalds berkaitan dengan hambatan memori bersama atau shared-memory bottleneck pada cache halaman Linux. Saat beberapa thread atau alur kerja prosesor mencoba membaca data dari cache yang sama secara berulang, terjadi persaingan akses yang menyebabkan penurunan performa sistem secara drastis.
Torvalds menemukan bahwa pada laptop dengan prosesor Intel Core i7-8565U, antrean pada baris cache bersama ini menyumbang hingga 99,92 persen beban kerja lintas inti prosesor. Kondisi ini membuat kinerja sistem melambat karena setiap inti prosesor harus berebut akses ke lokasi memori yang sama.
Melalui bantuan Claude Code, ia mengusulkan perubahan pada mekanisme kernel saat melepas memori dari cache halaman. Penundaan penggunaan kembali memori dilakukan sampai periode pembaruan RCU (Read-Copy-Update) selesai, sehingga pembacaan data dapat dilakukan langsung ke penyangga pengguna tanpa harus memperbarui penghitung referensi secara berulang.
Hasil pengujian menunjukkan lonjakan throughput yang signifikan pada beban kerja tertentu. Kecepatan pembacaan delapan thread meningkat dari kisaran 10 juta menjadi lebih dari 30 juta pembacaan per detik, sementara siklus kernel per pembacaan turun drastis dari 2.950 menjadi sekitar 725 siklus.
Meski menunjukkan performa yang menjanjikan, Torvalds menegaskan bahwa solusi ini belum sepenuhnya final. Masalah manajemen memori yang tertunda masih menjadi tantangan utama, terutama terkait efisiensi ruang penyimpanan saat kernel menunggu siklus pembaruan selesai.
Hingga pertengahan Oktober, cabang kode eksperimental ini belum dimasukkan ke dalam jalur utama kernel Linux 7.3. Status penggabungannya ke dalam versi stabil masih menjadi tanda tanya besar karena pengembang masih harus mengatasi regresi atau penurunan performa pada skenario tertentu.
Perubahan pandangan Torvalds terhadap AI terjadi secara bertahap selama beberapa tahun terakhir. Jika pada 2023 ia hanya melihat AI sebagai alat untuk mendeteksi bug, kini ia mulai menikmati perannya sebagai mitra kolaboratif dalam menulis kode program yang nyata dan kompleks.
Dalam sebuah perbincangan di Open Source Summit Europe, Torvalds menyebut bahwa AI adalah alat luar biasa jika digunakan dengan benar dan hati-hati. Ia menekankan pentingnya kebijaksanaan pengembang saat menerapkan teknologi ini pada bagian sistem yang vital bagi banyak pengguna di seluruh dunia.
Keputusan Torvalds melibatkan AI dalam proyek sebesar Linux menunjukkan titik balik dalam industri pengembangan perangkat lunak. Meski tidak akan menggantikan peran programmer sepenuhnya, AI kini telah menjadi instrumen valid untuk membantu manusia memecahkan masalah teknis yang rumit.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor









:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348210/original/010651100_1789390764-carrick.jpg)

