MapQuest Rebut Puncak Aplikasi AS Usai Tolak Perintah Trump Ganti Nama Danau

MapQuest, aplikasi pemetaan yang sempat dianggap terlupakan, secara mengejutkan berhasil merebut posisi puncak sebagai aplikasi paling banyak diunduh di App Store Amerika Serikat. Lonjakan popularitas MapQuest ini terjadi setelah perusahaan tersebut secara tegas menolak perintah eksekutif Presiden Donald Trump untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi "Lake America."
Kenaikan peringkat MapQuest ini terbilang dramatis. Dari posisi ke-8 pada Senin, aplikasi pemetaan pionir tersebut langsung melesat ke peringkat pertama secara keseluruhan di App Store AS pada Selasa. Ini adalah fenomena menarik di tengah dominasi aplikasi raksasa teknologi lainnya.
Penyebab utama lonjakan unduhan ini bermula dari penolakan MapQuest terhadap perintah eksekutif Presiden Trump pada 27 Agustus lalu. Perintah tersebut mengarahkan layanan penamaan geografis AS untuk mengadopsi nama "Lake America" sebagai bagian dari upaya dorongan perdagangannya yang sedang berlangsung.
MapQuest mengumumkan di platform X bahwa mereka tidak akan mengubah nama danau tersebut. Berbeda dengan Google Maps, dan kemudian Apple Maps, yang memilih untuk mengikuti arahan pemerintah, sikap MapQuest inilah yang kemudian menarik perhatian publik.
Sebagai respons, peringkat MapQuest di App Store AS terus menanjak tajam. Dari peringkat 128 pada 28 Agustus, naik menjadi 92 sehari setelahnya. Pada Senin, 31 Agustus, MapQuest bahkan mencapai peringkat 3 secara umum dan menjadi nomor 1 di kategori Navigasi, sebelum akhirnya menduduki posisi puncak di seluruh aplikasi dan gim pada Selasa pekan ini.
Sejak perintah eksekutif itu dikeluarkan, aplikasi ini diperkirakan telah diunduh sebanyak 632.000 kali di AS, berdasarkan data dari penyedia intelijen pasar Sensor Tower. Namun, pihak MapQuest sendiri mengklaim angka yang lebih tinggi, yakni lebih dari 1,5 juta instalasi gabungan di AS dan Kanada.
MapQuest juga menegaskan bahwa sebagian besar pengguna baru ini bukan sekadar pengunduh biasa; mereka secara aktif berinteraksi dengan aplikasi. "Yang luar biasa adalah orang-orang tidak hanya menginstal aplikasi kami, mereka cukup peduli untuk berkomunikasi langsung dengan kami, membuat permintaan fitur dan mengirimkan laporan bug di media sosial, dan dalam ulasan aplikasi kami," ujar Doug Berger, Manajer Umum MapQuest, kepada TechCrunch melalui email.
Berger menambahkan, tim kecil mereka bekerja tanpa henti untuk membangun fitur-fitur yang diminta pengguna. "Kami berupaya agar setiap orang memiliki pengalaman hebat dengan aplikasi ini," jelasnya.
Lonjakan ini terjadi sangat cepat bagi perusahaan. Lebih dari separuh total unduhan MapQuest di AS sepanjang tahun ini, atau sekitar 56%, terjadi antara 27 Agustus hingga 1 September, menurut estimasi Sensor Tower. Dalam periode tersebut, unduhan aplikasi di AS meningkat 123% dari hari ke hari dan naik lebih dari 50 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sikap MapQuest yang berani inilah yang membuatnya sangat beresonansi dengan konsumen, terutama karena kontrasnya dengan para pesaing raksasa teknologi yang jauh lebih besar. Dalam banyak kasus, perusahaan kecil memiliki fleksibilitas lebih untuk mengambil sikap independen.
Pekan lalu, Google menjelaskan keputusannya untuk mengganti nama danau, dengan alasan bahwa mereka memperbarui nama-nama sesuai perubahan dalam sumber resmi pemerintah, seperti Geographic Names Information System (GNIS) di AS. Apple tidak memberikan komentar, namun kemungkinan besar mengikuti pedoman serupa.
Ini bukan kali pertama MapQuest mengambil sikap berbeda. Aplikasi ini masih menyebut Teluk Meksiko dengan nama aslinya, alih-alih Teluk Amerika. Bahkan, mereka merilis alat daring yang menyenangkan yang memungkinkan pengguna secara bercanda mengganti nama Danau Ontario menjadi apa pun yang mereka inginkan, kemudian membagikan hasilnya di media sosial.
Meskipun pernah menjadi aplikasi pemetaan terkemuka, MapQuest kehilangan dominasinya seiring waktu kepada Google Maps. Kini, MapQuest dimiliki oleh perusahaan periklanan internet System1, yang mengakuisisi properti tersebut dari Verizon pada tahun 2019. Verizon sendiri sebelumnya telah membeli akuisisi awal MapQuest, yaitu AOL, pada tahun 2015.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)







