Paramount dan Warner Bros. Discovery Resmi Mengadopsi Nama Skydance Usai Merger

Paramount dan Warner Bros. Discovery akan beroperasi di bawah payung nama Skydance setelah proses merger rampung. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Chief Executive Officer Paramount, David Ellison, melalui pernyataan resmi pada Jumat lalu.
Skydance merupakan entitas rumah produksi film milik Ellison yang menjadi cikal bakal penggabungan raksasa media tersebut. Nama ini dipilih sebagai identitas tunggal perusahaan yang baru.
Kesepakatan korporasi jumbo senilai USD 110 miliar atau sekitar Rp1.710 triliun ini dijadwalkan selesai pada 6 Oktober mendatang. Transaksi tersebut menggabungkan dua studio film legendaris Hollywood, Paramount+ dan HBO Max, ke dalam satu ekosistem bisnis.
Portofolio perusahaan gabungan ini nantinya mencakup jaringan televisi besar seperti CBS, CNN, MTV, TBS, Comedy Central, dan Food Network. Mereka juga akan menguasai hak waralaba film dan serial populer dunia seperti The Lord of the Rings, Game of Thrones, DC Universe, serta Yellowstone.
Proses penggabungan ini terjadi setelah melalui persaingan korporasi yang cukup alot selama beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, Netflix sempat menyatakan ketertarikan untuk mengakuisisi unit bisnis studio dan layanan streaming milik Warner Bros. sebelum kesepakatan lebih luas dengan Paramount tercapai.
Langkah merger ini sempat terhambat oleh gugatan dari 12 negara bagian di Amerika Serikat. Para jaksa agung setempat menilai penggabungan tersebut berpotensi menekan persaingan pasar, sekaligus merugikan konsumen serta pekerja industri kreatif.
Namun, hambatan hukum tersebut akhirnya teratasi setelah seorang hakim menyetujui kesepakatan damai antara pihak perusahaan dengan para jaksa agung pekan ini. Keputusan pengadilan tersebut menjadi lampu hijau terakhir bagi terlaksananya konsolidasi besar-besaran di industri hiburan dunia.
Meski memakai identitas baru, Ellison memastikan bahwa merek dagang Paramount dan Warner Bros. akan tetap dipertahankan sebagai pusat operasional. Pihaknya berupaya menjaga agar warisan kedua studio raksasa tersebut tidak pudar di mata publik.
“Kami tidak ingin identitas perusahaan yang baru ini mengurangi, mengubah, atau membayangi kedua nama besar tersebut,” tulis Ellison melalui unggahan di platform X. Baginya, nama Skydance memberikan identitas mandiri bagi perusahaan tanpa menggeser fokus utama dari kedua studio yang sudah ada.
Langkah ini menandai pergeseran besar dalam lanskap media global di mana efisiensi dan penguasaan konten menjadi kunci utama. Di tengah maraknya dominasi layanan streaming, penggabungan ini diprediksi akan mengubah pola distribusi konten film dan serial di seluruh dunia termasuk di pasar Indonesia.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334613/original/006699400_1756722926-000_72YW3RF.jpg)











