Valuasi Pasar Apple Tembus USD 5 Triliun untuk Pertama Kalinya Saat Penutupan

Apple mencetak sejarah baru dalam industri teknologi global dengan menutup hari perdagangan dengan nilai pasar melampaui USD 5 triliun (sekitar Rp79.000 triliun).
Pencapaian ini menempatkan produsen iPhone tersebut sebagai perusahaan kedua yang pernah mencapai angka fantastis tersebut, menyusul jejak NVIDIA yang lebih dulu mencapainya pada Oktober 2025.
Saham Apple tercatat menguat tipis 0,5 persen di bursa Nasdaq, membuat harganya berada di level USD 342,96 per lembar. Kenaikan moderat ini cukup untuk membawa kapitalisasi pasar perusahaan ke angka USD 5,01 triliun saat bel penutupan berbunyi.
Hasil perdagangan hari ini menarik perhatian banyak investor karena terjadi di tengah tekanan jual pada sektor teknologi. Hampir seluruh raksasa teknologi mencatatkan penurunan nilai saham yang signifikan pada sesi yang sama.
Oracle mengalami pelemahan sebesar 8,83 persen, sementara Meta turun 3,27 persen dan Nvidia terkoreksi 3,16 persen. Tren negatif ini juga dirasakan oleh Microsoft, Amazon, serta Google yang masing-masing ditutup lebih rendah dari hari sebelumnya.
Meskipun baru kali ini bertahan di atas ambang USD 5 triliun saat penutupan, Apple sebenarnya sudah beberapa kali menyentuh angka tersebut sepanjang hari perdagangan. Menurut data The Wall Street Journal, ini merupakan kali ketujuh Apple melampaui angka tersebut sebelum akhirnya berhasil mempertahankan posisinya hingga akhir sesi.
Pada perdagangan harian, saham Apple sempat menyentuh level tertinggi di angka USD 347,07 per lembar. Posisi ini hanya terpaut 0,31 persen di bawah rekor harga tertinggi perusahaan sepanjang masa yang berada di angka USD 348,15.
Pencapaian ini menyusul rentetan peluncuran produk baru dari Apple. Perusahaan baru saja memperkenalkan jajaran iPhone 18 Pro, iPhone Duo, hingga perangkat rumah pintar seperti Apple HomeView, HomePod mini 2, dan Apple TV 4K.
Pasar kini menantikan laporan pendapatan kuartal keempat fiskal perusahaan yang dijadwalkan rilis pada 2 November mendatang. Investor berharap laporan tersebut memberikan gambaran mengenai daya tahan perusahaan terhadap kenaikan biaya komponen dan dampak dari penyesuaian harga perangkat keras terbaru.
Kepemimpinan baru di bawah CEO John Ternus tampak memberikan sentimen positif bagi para pemegang saham. Sejak ia menjabat pada 1 September, harga saham Apple telah melonjak sekitar 5 persen.
Angka pertumbuhan ini menjadi bukti optimisme investor terhadap arah bisnis perusahaan di bawah kendali manajemen baru. Data historis menunjukkan harga saham Apple berada di level USD 316,85 pada 31 Agustus sebelum kenaikan tersebut terjadi.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor










