Aksi Protes Pelajar di Prancis Meluas, Ratusan Orang Ditangkap Aparat

Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh pelajar di berbagai wilayah Prancis meningkat drastis hingga memicu bentrokan fisik yang meluas.
Aparat keamanan Prancis terpaksa menahan lebih dari 600 orang pada Rabu saat gelombang demonstrasi di sejumlah sekolah menengah dilaporkan semakin intensif. Tindakan tegas ini diambil pemerintah setelah kerusuhan dan aksi pembakaran menyebabkan puluhan personel keamanan mengalami luka-luka.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengecam keras eskalasi kekerasan yang terjadi di luar area sekolah. Ia menyebutkan bahwa sebanyak 83 petugas polisi dan gendarme atau polisi militer, serta 32 guru dan murid, tercatat mengalami cedera akibat kerusuhan tersebut. Menurut data pemerintah, unjuk rasa ini telah berdampak pada 356 sekolah di seluruh negeri.
Nunez menambahkan bahwa para perusuh sengaja menargetkan petugas penegak hukum dengan proyektil, tindakan kekerasan verbal, hingga percobaan pembakaran. Situasi di lapangan telah berubah menjadi kekacauan perkotaan yang membahayakan fasilitas umum dan keselamatan warga.
Para remaja di lycées, yaitu sekolah menengah tingkat atas di Prancis, melakukan pemblokiran sekolah sejak pekan lalu. Mereka menuntut perbaikan kondisi fasilitas pendidikan yang meliputi kelas kelebihan kapasitas, beban kerja berlebih, buruknya kualitas materi pembelajaran, hingga kekurangan tenaga pengajar.
Salah satu siswi berusia 17 tahun bernama Fadila mengungkapkan kondisi memprihatinkan di sekolahnya kepada kantor berita Reuters. Ia menyebut bahwa keberadaan kecoak dan tikus di lingkungan belajar telah menjadi pemandangan yang lazim.
Selain masalah kebersihan, suhu di dalam kelas juga sangat tidak menentu karena sistem pemanas yang rusak. Kondisi ini membuat suhu ruangan bisa berubah dari sangat panas hingga sangat dingin tergantung cuaca di luar gedung.
Gerakan protes ini awalnya muncul di wilayah Ile-de-France di sekitar ibu kota Paris, namun kini telah menjalar ke wilayah lainnya. Beberapa kota yang terdampak paling parah meliputi Bordeaux di barat daya, Lyon di tenggara, dan kota Lille di utara.
Di Lille, polisi terpaksa kembali menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang terlibat bentrokan. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di berbagai titik kumpul demonstrasi lainnya di seluruh Prancis.
Presiden Emmanuel Macron menyatakan bahwa kekhawatiran para pelajar adalah tuntutan yang sah, namun menurutnya hal tersebut tidak bisa membenarkan tindakan kekerasan. Ia menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat berbagi ilmu, bukan lokasi blokade atau aksi pembakaran tempat sampah.
Pemerintah menuding kelompok sayap kiri, khususnya partai La France Insoumise atau France Unbowed, telah memicu kemarahan siswa. Mereka dituduh mengirimkan agitator dari satu sekolah ke sekolah lain untuk membakar semangat massa agar melakukan tindakan anarkis.
Tokoh oposisi Jean-Luc Melenchon sebelumnya menuduh pemerintah melakukan penindakan keras dengan motif rasial. Tuduhan tersebut memicu reaksi keras dari Perdana Menteri Sebastien Lecornu yang menganggap komentar Melenchon sebagai penghinaan dan upaya memecah belah publik di tengah krisis pendidikan.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor














