Drama Penggusuran di Madrid Menjadi Senjata Politik PM Pedro Sanchez

Kasus penggusuran seorang wanita di Madrid bulan lalu secara tidak terduga mengubah konstelasi politik Spanyol. Perdana Menteri Pedro Sanchez menjadikan peristiwa ini sebagai isu sentral dalam kampanye menghadapi pemilihan umum sela.
Peristiwa ini bermula dari eksekusi pengosongan rumah yang memicu gelombang simpati sekaligus kemarahan publik. Video penarikan paksa warga dari tempat tinggalnya tersebar luas di media sosial dan memicu perdebatan mengenai hak atas hunian yang layak di tengah krisis biaya hidup.
Sanchez memanfaatkan momentum ini untuk menyoroti kebijakan ekonomi pemerintahannya yang berpihak pada kelompok rentan. Partai Sosialis pimpinannya menilai penggusuran tersebut adalah bukti nyata bahwa oposisi akan menjalankan kebijakan yang lebih represif jika memenangkan suara mayoritas di parlemen.
Langkah politis Sanchez menuai respons beragam dari berbagai spektrum partai di Spanyol. Partai oposisi utama, Partai Rakyat atau Partido Popular, menuding sang Perdana Menteri hanya mencari keuntungan elektoral dari penderitaan warga. Mereka berargumen bahwa masalah perumahan seharusnya diselesaikan melalui regulasi pasar yang lebih sehat, bukan melalui retorika politik di tengah jalanan.
Data menunjukkan bahwa angka penggusuran di kota-kota besar Spanyol tetap tinggi selama satu dekade terakhir. Banyak keluarga kelas menengah bawah berjuang membayar cicilan rumah setelah suku bunga bank sentral Eropa naik secara drastis untuk menekan inflasi di kawasan tersebut.
Suku bunga acuan saat ini berada di kisaran 4 persen, angka tertinggi yang pernah tercatat sejak satu dekade silam. Bagi warga Spanyol, kenaikan ini berarti tambahan cicilan bulanan mencapai 200 Euro (sekitar Rp3,5 juta), sebuah beban yang sangat berat bagi rumah tangga dengan pendapatan terbatas.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor















