Insiden Drone Ukraina di Bulgaria: Alarm Pertahanan Nasional

Jatuhnya sebuah drone Ukraina di wilayah Bulgaria baru-baru ini telah menyalakan lampu peringatan bagi sistem pertahanan negara tersebut. Insiden ini secara jelas menyoroti celah signifikan dalam kapabilitas pertahanan udara Bulgaria, terutama dalam konteks konflik di Ukraina.
Drone Maya decoy buatan Ukraina itu meledak di ladang dekat Kardam, 100 meter dari perbatasan Rumania. Kementerian Luar Negeri Bulgaria memanggil duta besar Ukraina, menyatakan keberatan atas pelanggaran wilayah udara. Kyiv berjanji akan bekerja sama penuh dalam penyelidikan.
Perdana Menteri Rumen Radev awalnya mengklaim drone membawa "sejumlah besar bahan peledak," namun dampak ledakan minim. Jatuhnya drone dekat stasiun pipa gas Trans-Balkan memicu kekhawatiran infrastruktur vital.
PM Radev mengungkapkan tidak ada radar NATO atau nasional yang mendeteksi drone kecil ini. Menteri Pertahanan Dimitar Stoyanov mengakui kebutuhan mendesak sistem anti-drone baru. Pertahanan udara yang diperkuat pun gagal mencegah pelanggaran wilayah udara.
Bulgaria berencana memperoleh hingga 10 sistem anti-drone dan peperangan elektronik melalui Uni Eropa, serta mempercepat pembelian radar. Stoyanov menyatakan perang drone telah berlangsung sejak 2023, namun Bulgaria belum punya strategi komprehensif.
Penyelidikan berlanjut, dengan kemungkinan manipulasi GPS atau kegagalan teknis. Mantan Menteri Pertahanan Todor Tagarev menduga Rusia berperan melalui kampanye spoofing elektronik. Pemerintah Bulgaria sendiri masih mencari jawaban dari Ukraina.
Insiden ini mencerminkan pergeseran kebijakan luar negeri Bulgaria yang lebih "pragmatis" terhadap perang Ukraina. Menteri Stoyanov menekankan bahwa konflik akan diselesaikan melalui jalur diplomatik, sejalan posisi PM Radev. Bulgaria menghentikan pasokan senjata dan menolak undangan koalisi pendukung.
Tagarev mengkritik Bulgaria yang terlalu cepat memanggil duta besar Ukraina, bukan Rusia, karena masalahnya adalah siapa yang menyebabkan drone itu berakhir di sana. Moskow menyambut retorika "lebih rasional" dari pemerintah Radev. Ini menandakan ketegangan diplomatik kompleks di tengah konflik regional.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor








