Langsung ke konten
beritana
Breaking

Krisis Perbankan dan Laporan Keuangan Bank Mendominasi Sentimen Pasar Global

Foto Beritana UpdateBeritana Update3 menit bacaWorld
Markets digest bank earnings after recent turmoil
(Michael M. Santiago/Getty Images)

Pasar keuangan global tengah mencerna beragam laporan keuangan bank besar yang baru saja dirilis, di tengah gejolak sektor perbankan dan kekhawatiran kenaikan suku bunga lebih lanjut. Sentimen investor cenderung berhati-hati, terlebih setelah data penjualan ritel menunjukkan pelemahan ekonomi Amerika Serikat.

BlackRock, firma manajemen aset terbesar di dunia, memangkas gaji Chief Executive Officer Larry Fink sebesar 30% menjadi USD 25,2 juta (sekitar Rp408 miliar) untuk tahun 2022. Keputusan ini diambil setelah perusahaan melaporkan penurunan pendapatan kuartal pertama sebesar 10% dari tahun sebelumnya, akibat kenaikan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi.

Manajemen BlackRock menjelaskan, penyesuaian insentif difokuskan pada jajaran direksi senior guna mengurangi dampak kerugian perusahaan terhadap karyawan secara lebih luas.

Sementara itu, Federal Reserve pada Jumat (14/4) mengizinkan akuisisi anak perusahaan Credit Suisse di AS oleh UBS.

Langkah ini menyusul penyelamatan Credit Suisse oleh UBS bulan lalu untuk mencegah gejolak sektor keuangan yang lebih luas, setelah pinjaman darurat dari Bank Nasional Swiss gagal menghentikan tekanan pasar.

Masalah Credit Suisse bermula saat Saudi National Bank, pemodal terbesarnya, menolak menyuntikkan dana tambahan pada tahun 2022. Akuisisi oleh UBS sendiri bernilai 3 miliar franc Swiss, setara USD 3,25 miliar (sekitar Rp52,7 triliun).

Pasar saham bergerak lesu pada Jumat lalu, meskipun sejumlah bank besar melaporkan laba yang melampaui ekspektasi. Kinerja solid ini justru memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) akan melanjutkan kenaikan suku bunga pada dua pertemuan berikutnya.

JPMorgan Chase, Citigroup, Wells Fargo, dan PNC Financial mencatat hasil keuangan yang kuat pada kuartal pertama, didorong oleh kampanye kenaikan suku bunga The Fed.

CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, memperingatkan investor untuk bersiap menghadapi suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama dari perkiraan awal.

Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, menegaskan bank sentral perlu terus memperketat kebijakan moneter. Austan Goolsbee, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, menyatakan resesi ringan di AS "sudah pasti" setelah gejolak perbankan bulan lalu.

Data penjualan ritel AS menunjukkan penurunan lebih dari yang diperkirakan pada Maret, mengindikasikan melemahnya daya beli masyarakat dan perekonomian. Ini adalah pertanda bahwa upaya The Fed untuk mengerem inflasi mulai menunjukkan dampak, sebut Goolsbee.

Meskipun demikian, sentimen konsumen relatif stabil pada April, menurut survei terbaru University of Michigan, meskipun kekhawatiran akan resesi masih membayangi.

"Situasi perbankan kali ini berbeda dari tahun 2008 karena melibatkan lebih sedikit pemain keuangan dan lebih sedikit masalah yang perlu diselesaikan," ujar CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon.

Ia menambahkan bahwa kondisi keuangan kemungkinan akan mengetat karena pemberi pinjaman menjadi lebih konservatif, dan belum diketahui apakah hal ini akan memperlambat belanja konsumen.

Di sisi lain, CEO BlackRock, Larry Fink, berpendapat krisis kepercayaan di sektor perbankan regional justru akan mempercepat pertumbuhan pasar modal.

Menurutnya, hal ini akan menguntungkan BlackRock yang memiliki kemampuan multi-aset dan keunggulan dalam konstruksi portofolio.

Presiden Bank Dunia, David Malpass, mengakui bahwa sanksi tetap berdampak pada ekonomi Rusia, meskipun data PDB mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan realitas tersebut. "Kualitas data sangat bervariasi antar negara," kata Malpass, seraya menambahkan bahwa "tidak banyak verifikasi data."

Investor terkenal Jeremy Grantham, yang berhasil memprediksi krisis dot-com tahun 2000 dan krisis finansial 2008, memperingatkan bahwa gelembung pasar keuangan kembali pecah. Ia memprediksi penurunan yang lebih tajam di pasar saham, bahkan bisa lebih dari 50% dalam skenario terburuk.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update