Ketegangan AS dan Iran Memuncak saat Prosesi Pemakaman Khamenei Berlangsung

Situasi di Timur Tengah kian memanas setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang di tengah prosesi pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Mashhad pada Kamis (9/7/2026).
Amerika Serikat mengeklaim telah menghantam 90 target militer di sepanjang garis pantai Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur logistik. Serangan ini memicu balasan dari Teheran yang menyasar aset Amerika di Kuwait, Bahrain, dan Qatar.
Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 14 orang tewas dan 78 lainnya terluka akibat eskalasi militer dalam dua hari terakhir. Kondisi di lapangan menunjukkan dampak serius terhadap sektor logistik global, terutama di Selat Hormuz.
Data dari Intertanko mencatat penurunan drastis jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz. Saat ini, hanya tersisa kurang dari sepuluh kapal per hari, jauh merosot dibandingkan rata-rata normal sebanyak 130 kapal sebelum konflik meletus.
Di sela-sela dentuman senjata, ribuan pelayat memadati jalanan kota Mashhad untuk melepas mendiang Khamenei yang tewas dalam serangan udara pada akhir Februari lalu. Suasana duka di jalanan diwarnai dengan teriakan kecaman terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam terhadap intimidasi. Ia menyatakan bahwa Selat Hormuz hanya akan beroperasi di bawah kendali Iran dan memperingatkan konsekuensi bagi pihak yang memulai agresi.
Sementara itu, Presiden Trump melalui pernyataannya telah membatalkan perjanjian gencatan senjata yang sempat disepakati bulan lalu. Trump menganggap negosiasi dengan pihak Iran kini tidak lagi membuahkan hasil dan memicu ketidakpastian keamanan kawasan yang lebih dalam.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor









