Kisah Backpacker Jepang Mengubah Rumah Tua Terbengkalai Jadi Penginapan

Daisuke Kajiyama memutuskan kembali ke tanah airnya untuk menyulap rumah tua di Jepang yang telah lama terbengkalai menjadi sebuah penginapan tradisional. Langkah nekat mantan pengelana ini menjadi solusi kreatif di tengah maraknya fenomena akiya, sebutan bagi jutaan rumah kosong tak berpenghuni di kawasan pedesaan Jepang.
Impian tersebut berawal pada 2011 saat Kajiyama pulang bersama pasangannya, Hila, setelah bertahun-tahun menjelajahi berbagai negara.
Pria asal Jepang ini memimpikan hunian kayu tradisional yang dikenal dengan sebutan kominka. Ia mendambakan dua bangunan berdampingan di area pedesaan agar satu rumah bisa difungsikan sebagai tempat tinggal dan rumah lainnya dijadikan penginapan. Namun, keterbatasan dana serta tradisi kepemilikan properti Jepang yang rumit sempat menyulitkan langkahnya.
Pencarian pantang menyerah membawanya ke Desa Tamatori di Prefektur Shizuoka, sebuah kawasan asri yang dikelilingi kebun teh dan sawah. Petunjuk dari seorang petani lokal mengarahkannya pada bekas pabrik teh hijau dan rumah petani tua yang telah kosong selama lebih dari tujuh tahun.
"Pemiliknya bilang tidak ada orang yang bisa tinggal di sana karena sudah terbengkalai, tetapi dia tidak menolak," ujar Kajiyama.
Kajiyama mendatangi lokasi tersebut hingga lima kali sebelum akhirnya bernegosiasi langsung dengan sang pemilik. Meski proses balik nama terhalang aturan hukum adat, ia diizinkan mengelola tempat itu dengan kesepakatan tertulis. Langkah pertama yang menyita banyak waktu adalah membersihkan tumpukan barang peninggalan penghuni lama di dalam bangunan berusia 90 tahun tersebut.
Fenomena rumah terbengkalai ini berkaitan erat dengan krisis demografi di Negeri Sakura. Data Forum Kebijakan Jepang mencatat ada sekitar 61 juta rumah dengan 52 juta rumah tangga pada 2013, dan jumlah rumah kosong diproyeksikan terus melonjak seiring penurunan populasi penduduk.
Proses renovasi dilakukan secara mandiri oleh Kajiyama dengan memanfaatkan material kayu bekas dari bangunan tradisional lain yang dibongkar.
Ia merogoh kocek sekitar USD 10.000 (sekitar Rp162 juta) hanya untuk memperbaiki lantai dan memasang fasilitas toilet modern. Untuk mempertahankan keaslian arsitektur, ia menolak menggunakan bahan bangunan modern yang dianggap dapat merusak nilai estetika kominka. Ia juga memanfaatkan program working holiday untuk mendapat bantuan tenaga dari para wisatawan asing.
Agar mengantongi izin usaha resmi, Kajiyama mendaftarkan propertinya sebagai penginapan berbasis pertanian. Ia lantas mempelajari budidaya bambu yang melimpah di sekitar desa demi memenuhi syarat operasional tersebut.
Penginapan bernama Yui Valley itu akhirnya resmi menyambut tamu perdana mereka pada 2014.
Pengalaman menyambut wisatawan mancanegara membuat Kajiyama merasa tetap terhubung dengan dunia luar meski menetap di desa. Tamu dari berbagai negara seperti Inggris, Afrika Selatan, hingga India kerap berbagi hidangan makan malam bersama. Duka sempat menyelimuti ketika Hila meninggal dunia akibat kanker pada 2022, namun Kajiyama terus melanjutkan impian bersama tersebut.
Hingga kini, Kajiyama diperkirakan telah menghabiskan dana sekitar USD 40.000 (sekitar Rp650 juta) untuk pembenahan berkala. Penginapan seluas 80 meter persegi itu kini menjadi destinasi favorit wisatawan yang ingin merasakan ketenangan alam pedesaan Jepang.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor









![Inovasi Kabel USB-C Statik PowerStand yang Bisa Jadi Penyangga Ponsel This clever USB-C cable doubles as a stand for your phone [Gallery]](https://cdn.beritana.com/media/2026/10/this-clever-usb-c-cable-doubles-as-a-stand-for-your-phone-gallery.webp)

