
Upaya kemanusiaan bagi pengungsi Ukraina di Polandia kini menghadapi tantangan berat karena menurunnya dukungan dana serta meningkatnya permusuhan publik. Nastya Podorozhnya, seorang aktivis asal Ukraina, menyaksikan langsung bagaimana organisasi yang ia dirikan, Martynka, harus berjuang bertahan di tengah perubahan iklim sosial yang drastis.
Martynka beroperasi di Krakow dengan menyediakan tempat perlindungan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan domestik atau perdagangan manusia. Sejak Maret 2022, organisasi ini telah menangani lebih dari 5.000 permintaan bantuan dari para penyintas perang.
Kondisi saat ini sangat kontras dengan masa awal invasi Rusia pada Februari 2022 ketika warga Polandia menyambut hangat para pengungsi. Kini, isu kelelahan donatur atau donor fatigue menjadi hambatan utama, terutama setelah berbagai organisasi internasional mulai memangkas anggaran bantuan secara signifikan.
Jun Shirato, perwakilan UNHCR untuk kawasan tersebut, mengungkapkan bahwa badan pengungsi PBB itu bahkan terpaksa mengurangi staf di Polandia hingga dua pertiga dari jumlah semula. Tiga kantor regional yang sebelumnya berada di Krakow, Lublin, dan Rzeszow kini telah ditutup sepenuhnya.
Selain masalah pendanaan, para pengungsi menghadapi ancaman nyata berupa perundungan di dunia maya dan kebencian fisik di lapangan. Statistik kepolisian Polandia mencatat adanya kenaikan drastis sebesar 30 persen pada kasus kejahatan kebencian terhadap warga Ukraina selama paruh pertama tahun ini.
Ketegangan ini semakin diperburuk oleh memori sejarah yang kelam antara kedua negara, termasuk perdebatan terkait peran Tentara Pemberontak Ukraina (UPA) semasa Perang Dunia II. Perselisihan sejarah ini seringkali dimanfaatkan oleh aktor tertentu, termasuk dugaan intervensi bot daring dari Rusia, untuk memecah belah solidaritas antara masyarakat Polandia dan komunitas pengungsi Ukraina.
Di tengah tekanan emosional akibat ancaman kematian dan serangan daring yang kerap diterimanya, Podorozhnya tetap berkomitmen melanjutkan misinya. Ia meyakini bahwa Martynka menyediakan dukungan krusial yang tidak bisa digantikan oleh lembaga lain bagi mereka yang paling rentan.
Kisah ini mencerminkan dinamika rumit yang dihadapi negara-negara penampung pengungsi di Eropa setelah gelombang simpati awal mereda. Kebutuhan akan pendampingan hukum dan psikologis bagi para penyintas kekerasan berbasis gender tetap menjadi perhatian yang menuntut kepedulian global agar tidak terabaikan oleh waktu.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor