Ancaman Perang Ethiopia dan Eritrea Meningkat Akibat Krisis di Tigray

Kehadiran ribuan tentara Eritrea di wilayah Tigray memicu kekhawatiran baru akan meletusnya perang regional di kawasan Tanduk Afrika.
Berbagai sumber mengonfirmasi pergerakan angkatan bersenjata Eritrea di wilayah utara Ethiopia tersebut di tengah seruan internasional untuk menahan diri. Laporan AFP mengutip sumber keamanan asing yang menyebutkan bahwa terdapat sekitar 5.000 hingga 8.000 tentara Eritrea yang kini bersiaga di negara bagian Tigray.
Pemerintah Ethiopia secara resmi telah menyurati Dewan Keamanan PBB untuk menuntut penarikan segera pasukan Eritrea dari wilayah kedaulatan mereka. Menteri Luar Negeri Ethiopia, Gedion Timothewos, menyatakan dalam surat tertanggal 8 Oktober bahwa kehadiran militer asing tersebut tidak memberikan pilihan lain bagi negaranya selain melakukan upaya pembelaan diri. Eritrea merupakan negara tetangga di utara Ethiopia yang dahulu merupakan bagian dari wilayah Ethiopia sebelum memerdekakan diri pada tahun 1993.
Menteri Informasi Eritrea, Yemane Meskel, membalas tuduhan tersebut dengan menuding Ethiopia terus menerus menabuh genderang perang melalui pernyataan provokatif di media sosial.
Konflik di wilayah Tigray memang terus memburuk dalam beberapa pekan terakhir dan menyeret stabilitas keamanan negara-negara di sekitarnya. Sejumlah pakar menilai bahwa Ethiopia sengaja memicu eskalasi ini setelah sebelumnya mengusir diplomat dari Mesir dan Eritrea yang berujung pada pemutusan hubungan diplomatik secara total.
Ketegangan semakin memuncak saat Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, menyatakan bahwa akses ke laut merupakan prioritas utama bagi negaranya yang kini terkurung daratan. Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa Ethiopia berencana merebut Pelabuhan Assab milik Eritrea secara paksa demi kepentingan ekonomi dan militer mereka. Pelabuhan Assab memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Ethiopia sejak mereka kehilangan akses langsung ke Laut Merah setelah kemerdekaan Eritrea.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)














