Langkah Joseph Kabila Bergabung dengan Pemberontak M23 Guncang Politik Kongo

Mantan Presiden Republik Demokratik Kongo, Joseph Kabila, secara resmi memimpin gerakan politik-militer baru yang dikenal sebagai Front for the Refoundation of the Nation atau FRN.
Keputusan tersebut menempatkan Kabila dalam posisi konfrontasi terbuka dengan pemerintahan Presiden Felix Tshisekedi. Pengumuman pembentukan koalisi ini disampaikan pada 12 Oktober di kediaman pribadinya di Goma, wilayah timur Kongo, dengan dihadiri oleh tokoh-tokoh dari aliansi pemberontak AFC/M23.
Claude Ibalanky, penasihat koalisi FRN, menyatakan bahwa organisasi ini dibentuk untuk menyatukan kekuatan oposisi yang selama ini bergerak secara terpisah. Struktur baru ini menggantikan Congo River Alliance yang sebelumnya menjadi sekutu utama bagi pemberontakan M23. Para pemimpin pemberontak seperti Corneille Nangaa dan Bertrand Bisimwa kini berada di bawah payung organisasi baru tersebut bersama komandan senior M23, Sultani Makenga.
Langkah strategis ini mencuat di tengah upaya diplomatik yang sedang berjalan untuk meredam konflik berkepanjangan antara militer Kongo dan kelompok pemberontak. Pemerintah Kongo sendiri sebelumnya telah menuding Kabila memberikan dukungan terhadap pemberontakan, sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh sang mantan presiden.
Pada 30 September 2025, pengadilan militer Kongo menjatuhkan vonis hukuman mati in absentia terhadap Kabila atas tuduhan pengkhianatan dan kejahatan perang. Kabila menolak putusan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk kriminalisasi bermotif politik.
Pejabat partai berkuasa, Union for Democracy and Social Progress, Adolph Amisi Makutano, mengkritik keras keterlibatan publik Kabila. Makutano menyebut langkah tersebut sebagai aib bagi bangsa karena secara terang-terangan bersekutu dengan pihak yang melawan negara.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor
















