Langsung ke konten
beritana

Menelisik Tuduhan Pentagon Terkait Peningkatan Ancaman Spionase Israel Terhadap Amerika Serikat

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaWorld
US-Israel: What are the allegations of espionage all about?
Tensions between US President Donald Trump (right) and Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu (left) are growing over the war in Iran and the conflict in LebanonImage: Jonathan Ernst/REUTERS

Pentagon dilaporkan telah meningkatkan status ancaman spionase Israel terhadap Amerika Serikat ke kategori internal tertinggi. Langkah ini mencerminkan ketegangan mendalam di tengah berlangsungnya konflik regional yang melibatkan Iran.

Sejumlah media di Amerika Serikat merujuk pada bocoran informasi dari sumber anonim di Defense Intelligence Agency (DIA). Mereka menyebutkan peningkatan status ancaman terjadi karena aktivitas intelijen Israel terhadap kepentingan Amerika Serikat yang meluas secara signifikan.

Pemerintah di Washington secara resmi membantah laporan tersebut, sementara pihak Israel menepis tuduhan ini sebagai klaim yang keliru. Meski demikian, isu ini memicu perdebatan luas mengingat posisi Israel sebagai salah satu mitra strategis terdekat Amerika Serikat.

Sejarah menunjukkan bahwa praktik spionase antarnegara sekutu bukan hal baru. Sebagai contoh, kasus Jonathan Pollard pada tahun 1987 yang bekerja sebagai analis intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat terbukti memberikan informasi rahasia kepada Israel demi imbalan uang.

Pollard divonis hukuman penjara seumur hidup sebelum akhirnya dibebaskan dan disambut langsung oleh Benjamin Netanyahu di bandara pada tahun 2020. Pakar intelijen Jerman, Erich Schmidt-Eenboom, menilai tindakan tersebut merupakan penghinaan diplomatik bagi pihak Amerika Serikat.

Situasi saat ini diduga berkaitan dengan upaya Amerika Serikat menekan Israel terkait konflik dengan Iran. Erich Schmidt-Eenboom berpendapat, pengungkapan informasi ini kemungkinan dilakukan dengan sepengetahuan pemerintah Amerika Serikat sebagai alat tekan diplomatik.

Tekanan ini dianggap sebagai strategi agar Israel menghentikan pemboman dan menarik pasukan dari Lebanon selatan. Hal ini sekaligus menjaga posisi politik dalam negeri mengingat pengaruh lobi Israel yang kuat di Amerika Serikat.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update