Langsung ke konten
beritana
Breaking

Kunjungan Jensen Huang ke Tokyo: Nvidia dan Jepang Merancang Masa Depan AI Fisik untuk Industri

Foto Beritana UpdateBeritana Update5 menit bacaWorld
What to watch for after Jensen Huang’s Japan visit
Image Credits:David Mareuil / Anadolu Agency / Getty Images

CEO Nvidia Jensen Huang baru saja mengakhiri kunjungan dua harinya ke Tokyo, Jepang, untuk memacu pengembangan kecerdasan buatan (AI) fisik di negara tersebut. Lawatan ini menghasilkan serangkaian kesepakatan strategis yang mencakup pembangunan 'pabrik AI' nasional, kemitraan dengan perusahaan robotika terkemuka, hingga perjanjian dengan pemasok material cip.

Kunjungan Huang pada 15-16 Juli lalu, yang menyusul pidato utamanya di Taiwan beberapa minggu sebelumnya dan kunjungan ke Korea Selatan beberapa bulan lalu, menegaskan pesan yang gamblang. Nvidia kini menargetkan lantai produksi Jepang, dan banyak manufaktur terbesar di sana siap bergabung dalam visi ini.

Menurut Huang, babak selanjutnya kecerdasan buatan akan berpusat pada lantai pabrik, robot, dan mesin, dan ia berharap Jepang yang akan membangunnya.

Tiga puluh tahun silam, investasi sebesar USD 5 juta dari Sega membantu menyelamatkan Nvidia yang hampir bangkrut.

Kini, sejarah seolah berulang; Nvidia dan raksasa industri Jepang kembali saling membutuhkan, kali ini untuk membangun era AI fisik, diawali dengan tiga proyek utama.

Proyek pertama adalah Noetra, inisiatif AI kedaulatan Jepang. Negara ini enggan mengoperasikan pabrik dan robotnya dengan AI buatan Amerika atau Tiongkok, sehingga pemerintah mengumpulkan sekitar 44 perusahaan domestik, dengan SoftBank, Sony, NEC, dan Honda sebagai intinya, untuk membangun AI sendiri bagi robot, kendaraan, dan lantai produksi.

Pemerintah Tokyo mengalokasikan dana hingga 1 triliun yen (sekitar USD 6,2 miliar atau Rp100,44 triliun) selama lima tahun, sebuah investasi besar pada “AI fisik” buatan dalam negeri, yaitu model dasar yang dirancang khusus untuk mengoperasikan mesin. Jepang ingin memiliki perangkat lunak inti ini, namun perangkat keras untuk membangunnya masih berasal dari Nvidia.

Raksasa cip AS itu akan membangun "pabrik AI Vera Rubin", sebuah pusat data masif yang dijejali cip generasi berikutnya, yang diperkirakan akan diluncurkan pada tahun 2028.

Pusat data ini akan memiliki 13.750 CPU Vera dan 27.500 GPU Rubin, menghasilkan daya 140 megawatt, dengan Noetra yang akan mengawasi upaya pembangunan pusat data tersebut.

Rencana Noetra berjalan dalam tiga tahap: model penalaran yang menekankan keterampilan berbahasa Jepang mulai tahun fiskal 2026; versi omni-modal yang menangani teks, gambar, video, dan audio pada tahun 2028; serta \"Real-world Native AI\" yang dibangun untuk mengoperasikan robot pada tahun 2030, yang akan dirilis secara bertahap kepada pengembang di luar Noetra.

Proyek kedua, "koalisi robotika", melibatkan raksasa industri Jepang yang berbaris di belakang Cosmos. Fanuc, Yaskawa, Kawasaki Heavy, Fujitsu, Hitachi, NEC, Sony, SoftBank, Kubota, dan grup robotika AIRoA menyatakan rencana untuk membangun di atas model Cosmos milik Nvidia.

Cosmos merupakan upaya model terbuka yang diluncurkan Nvidia pada bulan Mei bersama sejumlah laboratorium AI global. Di Tokyo, Nvidia memberikan alasan kuat bagi mereka untuk berkomitmen dengan memperkenalkan Cosmos 3 Edge, versi model yang berjalan pada cip Jetson Thor miliknya di dalam mesin itu sendiri.

Beberapa perusahaan sudah menguji sistem kontrol bersama; yang lain, seperti Honda R&D dan Omron, kini tengah membangun dengan menggunakan alat tersebut.

Huang menyatakan, \"Batas baru AI berada di dunia fisik, dan ini adalah kesempatan sekali dalam satu generasi bagi Jepang. Jepang menciptakan manufaktur modern. Kini, negara ini memiliki kesempatan untuk menciptakannya kembali bagi era industri cerdas.

Proyek ketiga berpusat pada Toyota, khususnya untuk mobil dan AI fisik.

Toyota telah menggunakan cip Nvidia di sebagian besar sistemnya, dan pada pameran CES Januari 2025 lalu, perusahaan berkomitmen untuk menggunakan platform Drive Nvidia pada kendaraan generasi berikutnya.

Kerja sama terbaru ini memperluas jangkauan Nvidia ke sektor manufaktur Toyota, di mana simulasi digunakan untuk merancang jalur produksi, ke dalam perangkat lunak yang mengoperasikan kendaraannya, dan ke sistem yang membaca lalu lintas jalan. Mobil Toyota akan menjalankan sistem bantuan pengemudi canggih, yang dapat mengarahkan dan mengerem tetapi masih memerlukan pengemudi.

Pendekatan ini lebih konservatif dibandingkan Waymo dan Tesla, dua perusahaan teknologi terkemuka yang mengembangkan sistem yang lebih minim ketergantungan pada pengemudi manusia.

Kunjungan Huang menempatkan AI fisik sebagai inti strategi industri Jepang, dan Tokyo siap menginvestasikan dana besar untuk mendukungnya. Menghadapi masalah tenaga kerja yang menyusut, Jepang menargetkan 10 juta robot yang dilengkapi AI di 18 sektor pada tahun 2040, didukung oleh USD 65 miliar (sekitar Rp1.053 triliun) dalam investasi publik dan swasta untuk AI fisik.

Target jangka panjang Jepang jauh lebih ambisius.

Strategi Robotika AI Jepang, yang dirilis pada Maret, bertujuan untuk menguasai lebih dari 30% pasar robotika AI global pada tahun 2040, sebuah pasar yang diperkirakan Tokyo bernilai sekitar 20 triliun yen (sekitar USD 133 miliar atau Rp2.154,6 triliun).

Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) mendanai model dasar domestik untuk mengoperasikan mesin-mesin tersebut, dan pabrik Noetra yang didukung Nvidia adalah tempat model berskala besar, hingga triliunan parameter, akan dilatih. Taruhannya adalah bahwa data lantai pabrik dan basis manufaktur Jepang dapat menjadi pondasi bagi AI fisik.

Di balik kasus industri ini terdapat aspek kedaulatan yang kuat. Ketika AS dan Tiongkok terus melaju dalam AI berskala besar, Tokyo menginginkan data dan daya komputasinya sendiri, serta mengurangi ketergantungan pada infrastruktur yang tidak dapat mereka kendalikan.

Huang hadir pada 16 Juli bersama Menteri Perdagangan Ryosei Akazawa pada peluncuran AI fisik pemerintah, dengan Perdana Menteri Sanae Takaichi bergabung melalui video.

Pemerintahan Takaichi telah menjadikan AI dan semikonduktor sebagai inti dari rencana pertumbuhan yang mengejar 370 triliun yen (sekitar USD 2,3 triliun atau Rp37.260 triliun) dalam investasi publik dan swasta pada tahun 2040. Pabrik Noetra, yang Nvidia klaim sebagai "infrastruktur AI nasional pertama di dunia", adalah taruhan paling jelas sejauh ini.

Namun, dorongan Jepang untuk mencapai kemandirian, setidaknya untuk saat ini, masih sangat bergantung pada cip Amerika.

Dalam dua hari kunjungannya, Huang bertemu dengan hampir setiap nama penting di industri teknologi Jepang. Ia santap siang bersama CEO Toyota, Fanuc, Yaskawa, Fujitsu, dan Kawasaki, serta bertemu puluhan pimpinan rantai pasok di sebuah izakaya (pub kasual Jepang) di Kanda.

Ini adalah pola yang sama yang ia jalankan beberapa minggu sebelumnya, dengan pidato utama di Taiwan, makan ayam goreng, dan kesepakatan 50.000 GPU di Seoul pada musim gugur lalu.

Kali ini, giliran Tokyo yang menjadi sorotan, dengan fokus pada robot, rantai pasok, dan cip sebagai fondasinya.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update