Untuk Kamu yang Capek Pura-Pura Tangguh, Hati Itu Boleh Patah Kok

Setelah semua yang terjadi, rasanya kayak ada tuntutan nggak tertulis, ya kan?
Kamu merasa harus tetap berdiri tegak, senyum lebar, seolah tidak pernah ada apa-apa yang menghantammu sampai luluh lantak.
Bukan cuma kamu yang ngerasa gitu. Banyak banget dari kita, terutama perempuan, yang diajari buat jadi 'tangguh' dalam definisi yang salah.
Kita dipaksa percaya kalau nunjukkin kesedihan itu tanda kelemahan, sebuah aib yang harus ditutupi rapat-rapat.
Padahal, hati itu bukan robot yang bisa langsung disetel 'bahagia' terus setelah dihancurin.
Kamu Nggak Perlu Jadi Superwoman
Kamu mungkin habis ditinggalkan, atau dikhianati, atau sekadar dikecewakan sampai rasanya dunia runtuh.
Tapi besoknya, kamu bangun, pakai baju terbaik, senyum ke semua orang, seolah nggak ada bekas luka di mana-mana.
Bukan karena kamu kuat. Tapi karena kamu takut. Takut terlihat cengeng, takut dianggap gagal, takut dia merasa menang.
Kamu mati-matian menahan air mata yang mendesak, pura-pura sibuk, ketawa paling kencang di tongkrongan, biar nggak ada yang curiga.
Padahal di dalam, ada suara kecil yang teriak minta dilepaskan, minta didengar.
Tapi Sampai Kapan Sandiwara Ini?
Terus, coba deh pikir. Semua energi yang kamu pakai buat pura-pura kuat itu, buat siapa sih?
Buat orang lain yang sebenarnya nggak peduli-peduli amat dengan kedalaman hatimu?
Atau justru malah menghabiskan energi yang seharusnya kamu pakai buat benar-benar sembuh dan bangkit?
Tangguh itu bukan berarti nggak boleh nangis, lho. Tangguh itu justru berani mengakui kalau kamu lagi rapuh, lagi nggak baik-baik saja.
Menerima kalau hati kamu memang sedang patah, dan itu butuh waktu, butuh proses buat diperbaiki.
Ini Bukan Soal Dia, Tapi Soal Kamu
Kebahagiaan sejati itu nggak datang dari seberapa pandainya kamu menyembunyikan luka.
Dia datang dari seberapa berani kamu jujur sama diri sendiri, seberapa tulus kamu membiarkan dirimu merasakan.
Mungkin terdengar klise, tapi memang begitu. Luka itu perlu diakui, bukan ditutup-tutupi.
Jadi, kalau hari ini kamu merasa capek banget memikul beban 'tangguh' itu, nggak apa-apa kok kalau mau berhenti sebentar.
Izinkan dirimu merasa. Izinkan dirimu nangis sampai lega. Itu bukan akhir dari segalanya, itu justru awal kamu mulai proses menyembuhkan diri.
Kamu nggak perlu validasi dari siapa pun untuk merasakan apa yang kamu rasakan. Kamu sudah cukup, apa adanya. Dan itu lebih dari cukup.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor











