Ketua Komisi Uni Afrika, Mahmoud Ali Youssouf, "mengutuk keras" serangan itu dan memuji pasukan Niger yang tindakannya "memungkinkan untuk memukul mundur serangan dan mengamankan fasilitas bandara."
Bandara Internasional Diori Hamani merupakan salah satu instalasi keamanan paling sensitif di Niger. Fasilitas ini berfungsi sebagai pusat penerbangan sipil sekaligus pangkalan militer yang vital.
Bandara ini juga menampung fasilitas yang terkait dengan Aliansi Negara-negara Sahel (AES), yang terdiri dari Niger serta negara tetangga Mali dan Burkina Faso. Ketiga negara tersebut kini dipimpin oleh junta militer, yang berkuasa sebagian karena kegagalan menangani kekerasan jihadis selama bertahun-tahun di kawasan itu.
Dalam serangan Januari lalu di bandara yang sama, empat personel militer terluka dan 20 penyerang tewas, menurut Kementerian Pertahanan Niger. Pada saat itu, pemimpin pemerintah militer Niger yang telah berkuasa selama tiga tahun, Abdourahamane Tiani, berterima kasih kepada Rusia atas bantuannya dalam menggagalkan serangan.
Tiani juga menuduh presiden Prancis, Benin, dan Pantai Gading mendukung pihak-pihak yang bertanggung jawab, meski ia tidak memberikan rincian bantuan Rusia atau bukti untuk mendukung tuduhannya. Dalam beberapa minggu terakhir, otoritas Niger telah merobohkan permukiman di dekat bandara, dengan alasan "risiko teroris."
Mereka juga telah memperpanjang pagar pembatas bandara dan memasang lebih dari 350 kamera pengawas.