Langsung ke konten
beritana
Breaking

655 Juta Orang Masih Hidup Tanpa Listrik, Akses Energi Dunia Mendesak

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaWorld
655 million people still living without electricity underscore urgent need to deliver on universal energy access target
Foto: WHO News

Sebanyak 655 juta orang di seluruh dunia hingga saat ini masih hidup tanpa akses listrik. Kondisi tersebut menuntut percepatan nyata dalam pencapaian target akses energi universal atau SDG 7.

Data tersebut tertuang dalam laporan terbaru yang disusun oleh Badan Energi Internasional (IEA) bersama sejumlah lembaga global lainnya. Laporan ini berfungsi sebagai dasbor pemantau kemajuan energi, efisiensi, dan kerja sama internasional.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyebut akses terhadap energi modern dimulai dari dua hal mendasar, yakni listrik dan metode memasak yang bersih. Menurutnya, sejak 2010, sebanyak 800 juta orang telah mendapatkan listrik, namun tantangan ke depan masih sangat besar.

Senada dengan hal itu, Direktur Jenderal IRENA, Francesco La Camera, menekankan bahwa negara dengan kapasitas energi terbarukan yang kuat lebih mampu bertahan dari gangguan ekonomi. Pemanfaatan energi domestik yang terjangkau menjadi kunci utama ketahanan energi nasional.

Namun, tantangan terbesar saat ini justru menumpuk di wilayah Afrika Sub-Sahara yang kehilangan banyak kesempatan ekonomi karena minimnya infrastruktur. Valerie Levkov dari World Bank menyebut keterbatasan anggaran publik mengharuskan keterlibatan investasi sektor swasta yang lebih masif.

Selain aspek ekonomi, isu kesehatan menjadi perhatian serius Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Ia menjelaskan bahwa polusi udara di dalam rumah akibat bahan bakar masak tradisional merenggut jutaan nyawa serta memperlebar kesenjangan bagi kelompok rentan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menegaskan bahwa progres global saat ini masih belum sebanding dengan ambisi yang ditetapkan. Komunitas internasional diminta untuk meningkatkan dukungan finansial dan kebijakan guna menutup kesenjangan akses yang masih signifikan antarnegara.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update