Abelardo de la Espriella: Presiden Baru Kolombia Janjikan Perubahan

Abelardo de la Espriella resmi dilantik sebagai presiden baru Kolombia pada Jumat, menandai pergeseran arah politik yang signifikan. Pemimpin konservatif ini bersumpah akan menerapkan strategi keras dalam menghadapi kelompok pemberontak dan mengurangi pengeluaran pemerintah.
Mantan pengacara kriminal ini memecah tradisi dengan mengadakan upacara pelantikan di Cali, bukan ibu kota Bogotá. Pilihan kota di barat daya, yang terpukul keras oleh kekerasan narkoba dan serangan kelompok pemberontak, menekankan prioritas keamanan pemerintahannya.
Sekitar 11.000 pasukan dikerahkan untuk menjaga keamanan presiden berusia 48 tahun ini dan belasan kepala negara yang hadir. Kehadiran para pemimpin seperti Javier Milei dari Argentina dan Raja Felipe VI dari Spanyol menyoroti perhatian regional dan internasional.
Salah satu prioritas fundamentalnya adalah menegakkan kontrol wilayah negara. De la Espriella menyatakan, “Jika kita tidak mengontrol kota-kota dan wilayah pedesaan kita, bangsa ini akan kehilangan kedaulatannya.” Ini mencerminkan kritiknya terhadap strategi “Total Peace” mantan Presiden Gustavo Petro yang dianggap gagal.
De la Espriella berencana mengakhiri pembicaraan damai dan menghadapi kelompok pemberontak dengan kekuatan militer lebih besar. Ia juga mendukung pendekatan yang lebih keras terhadap kejahatan, termasuk pembangunan penjara besar dan penggunaan penyemprotan udara untuk memusnahkan tanaman koka ilegal.
Pengamat politik Elizabeth Dickinson dari International Crisis Group melihatnya sebagai ayunan pendulum kembali ke kanan. Meskipun tekanan militer dapat melemahkan kelompok pemberontak, Dickinson mengingatkan bahwa mengakhiri seluruh potensi negosiasi bisa kontraproduktif bagi ribuan individu yang terlibat konflik.
Di bidang kebijakan luar negeri, de la Espriella telah menunjukkan keselarasan dengan Washington. Ini terlihat dari pemotongan hubungan diplomatik dengan Kuba dan pemulihan hubungan dengan Israel, serta dukungan untuk penyerangan terhadap kapal penyelundup narkoba.
Secara domestik, ia ingin memangkas pengeluaran pemerintah hingga 40% untuk mengurangi defisit anggaran. Namun, presiden baru ini menghadapi tantangan untuk membangun mayoritas di Kongres dan perlawanan dari Petro, yang menolak mengakui hasil pemilihan.
Klaim Petro mengenai kecurangan pemilu dapat memicu protes dan kekhawatiran tentang potensi pelanggaran hak asasi manusia akibat kebijakan anti-kejahatan yang lebih ketat. Sergio Guzmán, seorang analis politik, meyakini de la Espriella siap menghadapi perlawanan ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor












