
AC Milan menelan pil pahit di ajang Liga Europa 2026-2027 setelah takluk telak 0-3 dari tuan rumah Bournemouth pada matchday ketiga fase liga. Hasil ini tidak hanya membuat Rossoneri gagal membawa pulang poin, tetapi juga mengindikasikan adanya permasalahan fundamental dalam performa tim.
Sejak babak pertama, AC Milan kehilangan kendali permainan secara signifikan. Petaka bagi tim tamu bermula ketika penalti Justin Kluivert sukses dieksekusi pada menit kedelapan, menggemparkan pertahanan Milan dan memberikan keunggulan awal bagi Bournemouth.
Situasi semakin rumit bagi skuat asuhan Stefano Pioli setelah penjaga gawang Mike Maignan diganjar kartu merah pada menit ke-27. Pelanggaran fatal tersebut berujung pada penalti kedua bagi Bournemouth yang berhasil dikonversi oleh Marcus Tavernier lima menit kemudian, menggandakan keunggulan tuan rumah.
Bermain dengan sepuluh pemain sepanjang sisa pertandingan terbukti sangat memberatkan bagi AC Milan untuk mengejar ketertinggalan. Amine Adli kemudian mencetak gol ketiga bagi Bournemouth pada menit ke-84, memastikan kemenangan meyakinkan bagi tim tuan rumah dan memperparah kekalahan Milan.
Dari serangkaian pemain Rossoneri yang tampil di bawah standar, terdapat empat nama yang paling mengecewakan dalam pertandingan ini: Mike Maignan, Koni De Winter, Pervis Estupinan, dan Ruben Loftus-Cheek. Performa mereka menjadi sorotan utama dalam evaluasi pasca-pertandingan.
Mike Maignan, penjaga gawang utama asal Prancis, memikul tanggung jawab besar atas hasil buruk ini. Ia gagal membendung penalti pertama Bournemouth dan kemudian melakukan pelanggaran ceroboh yang berakibat kartu merah langsung di menit ke-27.
Pengusiran Maignan bukan hanya membuat tim kehilangan kiper andalannya, tetapi juga menjadi titik balik krusial yang memaksa AC Milan bermain dengan sepuluh orang. Keputusan tersebut juga memaksa pelatih melakukan perubahan taktik dan personel secara prematur, merusak keseimbangan tim yang sudah rapuh.
Di lini belakang, Koni De Winter juga gagal menghadirkan ketenangan yang dibutuhkan. Bek muda tersebut berulang kali kesulitan mengatasi tekanan dari para penyerang Bournemouth dan menunjukkan kurangnya akurasi dalam menjaga posisi saat tuan rumah melancarkan serangan.
De Winter bahkan menerima kartu kuning pada menit ke-81 setelah melakukan pelanggaran untuk menghentikan pergerakan lawan yang berbahaya. Statistik menunjukkan Bournemouth mampu mencatatkan tujuh tembakan tepat sasaran, menggambarkan betapa beratnya tekanan yang harus dihadapi lini pertahanan AC Milan sepanjang laga.
Pervis Estupinan, yang mengisi posisi bek kiri, tampak kesulitan menjalankan tugas ganda sebagai penopang pertahanan dan inisiator serangan. Kontribusinya dalam memberikan lebar permainan tidak cukup efektif, sementara upaya defensifnya di sektor kiri pertahanan juga belum maksimal.
Penampilannya semakin suram dengan kartu kuning yang diterimanya pada menit ke-35, membatasi ruang geraknya. Akibatnya, pelatih memutuskan untuk menarik Estupinan saat jeda babak pertama untuk menerapkan pendekatan permainan yang lebih defensif dan hati-hati.
Ruben Loftus-Cheek, gelandang asal Inggris, juga tidak mampu memanfaatkan kesempatan bermain dalam posisi yang lebih menyerang. Perannya dalam membangun progresi bola dari tengah ke depan sangat minim, begitu pula kemampuan fisiknya untuk menembus pertahanan lawan tidak terlihat.
Ketiadaan pengaruh signifikan dari Loftus-Cheek mengakibatkan serangan AC Milan kehilangan salah satu opsi kunci untuk penetrasi ke area berbahaya. Dia pun menjadi korban penyesuaian taktik saat jeda, ditarik keluar lapangan bersama Estupinan setelah tim kehilangan Maignan.
Kekalahan telak ini menjadi alarm serius bagi AC Milan untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Aspek disiplin individu, koordinasi lini pertahanan, serta efektivitas penguasaan bola harus segera ditingkatkan agar kesalahan serupa tidak terulang dan merugikan ambisi Rossoneri di kompetisi Eropa.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor