Langsung ke konten
beritana

Amerika Serikat Kembali Lancarkan Serangan Udara ke Iran, Teheran Balas Tembak Bahrain

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaWorld
U.S. launches a second day of strikes on Iran and Iran fires back at Gulf States
Foto: NPR News

Amerika Serikat melancarkan gelombang kedua serangan udara ke sejumlah wilayah di Iran hingga Kamis pagi. Aksi militer ini dilakukan setelah Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Teheran terkait kebuntuan negosiasi perang.

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan yang menyasar Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Eskalasi konflik di Timur Tengah ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas keamanan regional.

Langkah militer Amerika Serikat kali ini tampak lebih intens dan luas dibandingkan hari sebelumnya. Serangan tersebut menargetkan situs pertahanan udara, sistem komunikasi, serta kemampuan pengawasan militer Iran di ibu kota Teheran, Bandar Abbas, dan area sekitar Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur perairan sempit yang berfungsi sebagai pintu keluar utama pasokan energi dunia. Iran hingga saat ini tetap mempertahankan kendali atas jalur tersebut, yang mengakibatkan gangguan pasokan minyak global dan lonjakan harga energi secara signifikan.

Ketegangan juga terasa di wilayah sekitarnya. Kuwait memutuskan menutup ruang udara mereka sebagai langkah pencegahan, sementara sirine peringatan serangan rudal berbunyi di Bahrain saat serangan berlangsung.

Presiden Donald Trump sebelumnya mendesak Iran untuk segera menyepakati perjanjian guna mengakhiri perang. Namun, tuntutan Amerika Serikat agar Iran menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya tingkat tinggi tetap menjadi poin krusial yang sulit diterima oleh pemerintah Iran.

Di sisi lain, Iran menuntut penghapusan sanksi ekonomi dan pelepasan aset yang dibekukan sebelum menyetujui kesepakatan apa pun. Kondisi ini membuat upaya diplomatik kembali menemui jalan buntu meskipun kedua belah pihak terlihat mencari jalan keluar agar bisa mengeklaim kemenangan domestik.

Harga minyak mentah dunia merespons situasi ini dengan diperdagangkan di atas USD 93 (sekitar Rp1,46 juta) per barel pada Rabu. Angka ini mencerminkan kenaikan lebih dari 25 persen sejak perang dimulai pada Februari lalu, yang berdampak langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok bagi warga global.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update