Analisis Standard Chartered: Stablecoin USDe Ethena Diprediksi Tembus Rp620 Triliun

Bank multinasional asal Inggris, Standard Chartered, memproyeksikan pasokan stablecoin USDe milik Ethena akan meningkat delapan kali lipat menjadi USD 40 miliar atau sekitar Rp620 triliun pada akhir 2028.
Pertumbuhan masif ini didorong oleh ekspansi protokol Ethena ke berbagai sumber imbal hasil di luar pasar kripto tradisional. Langkah diversifikasi tersebut mencakup pemanfaatan aset riil serta instrumen keuangan terkait ekuitas dan komoditas.
Dalam laporan riset terbaru yang dipublikasikan pada Rabu, bank tersebut memberikan estimasi harga bagi token ENA milik Ethena. Mereka menargetkan harga ENA mencapai USD 2, atau setara Rp31.000 per token pada penghujung tahun 2028.
Target harga tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar tujuh kali lipat dari harga saat ini di kisaran USD 0,28 atau Rp4.340. Analis meyakini performa ENA akan melampaui aset kripto utama seperti Bitcoin dan Ether dalam periode yang sama.
Stablecoin sendiri adalah aset digital yang nilainya dipatok pada mata uang fiat, biasanya dolar Amerika Serikat, untuk menjaga stabilitas harga di tengah volatilitas pasar kripto. USDe memiliki mekanisme unik dalam menjaga nilainya melalui strategi perdagangan basis dan diversifikasi ke sektor pinjaman institusional.
Standard Chartered mencatat bahwa imbal hasil rata-rata dari berbagai sumber saat ini mencapai 5,2 persen. Fleksibilitas ini memberikan ruang bagi USDe untuk terus berkembang di tengah pasar aset tokenisasi yang diperkirakan tumbuh hingga USD 4 triliun atau Rp62.000 triliun pada 2028.
Kunci dari penilaian harga ENA terletak pada mekanisme pembelian kembali token yang disetujui oleh tata kelola Ethena pada September lalu. Sebanyak 95 persen dari pendapatan bersih protokol akan dialokasikan untuk membeli kembali token ENA ketika pasokan USDe mencapai target tertentu.
Jika USDe berhasil menembus pasokan USD 25 miliar, Ethena diperkirakan mampu menghasilkan dana senilai USD 375 juta atau sekitar Rp5,8 triliun setiap tahun untuk pembelian kembali token. Ini menjadi daya tarik bagi investor yang mengharapkan nilai intrinsik token meningkat seiring skala protokol.
Para analis bank ini juga memberikan simulasi menarik jika pasokan USDe benar-benar mencapai USD 40 miliar. Mereka memperkirakan laju pembelian kembali bisa mencapai 23 persen dari kapitalisasi pasar ENA yang beredar jika harga tidak berubah.
Angka tersebut dinilai tidak berkelanjutan dalam jangka panjang oleh pihak bank. Oleh karena itu, harga ENA diprediksi akan terus mengalami apresiasi hingga tingkat pembelian kembali mencapai titik keseimbangan yang lebih wajar, mirip dengan pola yang terjadi pada token UNI milik Uniswap.
Data dari platform pelacakan harga CoinGecko menunjukkan bahwa ENA sempat diperdagangkan di kisaran USD 0,27. Token ini telah mengalami kenaikan signifikan sekitar 77 persen dalam sebulan terakhir, dengan total kapitalisasi pasar mencapai USD 2,65 miliar atau sekitar Rp41 triliun.
Investor kini menantikan efektivitas penerapan fitur pembayaran USDe yang baru saja diluncurkan. Inovasi ini memberikan imbal hasil sekitar 6 persen kepada pengguna, memperkuat posisi Ethena di ekosistem keuangan terdesentralisasi global.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor











