Arah Kazakhstan Pasca-Pemilu: Menjaga Keseimbangan antara Rusia, UE, dan Tiongkok

Kazakhstan, negara pecahan Uni Soviet di Asia Tengah, kembali memperkuat kekuasaan di tangan presidennya, Kassym-Jomart Tokayev, melalui pemilihan umum parlemen yang baru saja usai. Setelah konstitusi baru disahkan, negara ini dihadapkan pada tantangan besar untuk terus menjaga manuver diplomasi yang rumit antara Uni Eropa (UE), Rusia, dan Tiongkok.
Pada 23 Agustus lalu, Kazakhstan menggelar pemilihan anggota parlemen, sebuah proses yang tidak banyak diwarnai kejutan. Badan legislatif negara itu diubah dari sistem dua kamar menjadi satu kamar, dengan warga memilih 145 anggota parlemen melalui daftar partai.
Seluruh tujuh partai terdaftar diizinkan mengikuti pemilihan, termasuk partai berkuasa, Adilet, yang berarti "Keadilan".
Para pakar yang diwawancarai oleh DW (Deutsche Welle, lembaga penyiaran publik Jerman) sepakat bahwa Adilet, partai Presiden Tokayev, memiliki peluang kemenangan yang sangat dominan.
Hasil pemilu sendiri bukanlah inti dari intrik politik yang terjadi.
Luca Anceschi, Profesor Studi Eurasia dari University of Glasgow, Skotlandia, berpendapat bahwa parlemen yang baru akan memiliki fungsi serupa dengan parlemen sebelumnya. Menurutnya, lembaga legislatif ini pada dasarnya akan mewakili keinginan rezim yang berkuasa.








