Zelenskyy Tolak Pemilu di Tengah Perang: Khawatir Perpecahan, Ungkap Rencana Mobilisasi Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy secara tegas menolak gagasan penyelenggaraan pemilu di tengah perang skala penuh melawan invasi Rusia, menyikapi usulan dari mantan menteri pertahanan. Penolakan terhadap pemilu di tengah perang tersebut disuarakan Zelenskyy karena dianggap sangat berisiko, berpotensi memecah belah persatuan nasional pada masa genting ini.
"Saya percaya bahwa dalam perang seperti ini, pemilu itu sendiri merupakan risiko besar," ujar Zelenskyy dalam pernyataan yang dirilis Minggu (3/9/2023). "Pemilu sekarang adalah tsunami bagi negara yang akan memecah belah Ukraina."
Berdasarkan undang-undang darurat militer yang berlaku, seluruh aktivitas pemilihan umum di Ukraina memang ditangguhkan selama negara itu berjibaku melawan pasukan invasi Rusia. Kebijakan ini, yang memprioritaskan stabilitas dan keamanan, mendapat dukungan luas dari masyarakat.
Baca Juga:
- Putin Ancam Serang Sektor Ekonomi Kyiv, 'Kotak Pandora' Terbuka
- Australia Konfirmasi Kasus H5N1 Pertama pada Mamalia Laut
- Ukraina Jatuhkan Sanksi pada Kartun 'Masha and the Bear', Disebut Propaganda Rusia
"Jika kita ingin menghancurkan negara, maka kita bisa bergerak ke arah pemilu selama masa perang ini," tegas Zelenskyy, menggarisbawahi penolakan kuatnya terhadap proposal yang diajukan oleh mantan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov.
Usulan untuk mengadakan pemilu tersebut datang dari Fedorov sebulan setelah ia diberhentikan dari jabatannya sebagai menteri pertahanan oleh Zelenskyy. Fedorov dikenal memiliki basis dukungan signifikan di kalangan pemuda Ukraina.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











