Arus Keluar ETF Bitcoin Capai Rp7,6 Triliun di Tengah Gejolak Makro AS

Dana kelolaan ETF Bitcoin mencatat rekor arus modal keluar terbesar sejak Juni lalu di tengah gejolak pasar makro global. Penurunan signifikan pada ETF Bitcoin ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Total dana yang ditarik dari pasar mencapai USD 484,9 juta (sekitar Rp7,61 triliun) hanya dalam waktu satu hari pada perdagangan Rabu waktu setempat.
BlackRock melalui produk IBIT mengalami hantaman paling keras dengan arus keluar sebesar USD 207,7 juta (sekitar Rp3,26 triliun). Fidelity FBTC menyusul di posisi kedua dengan kehilangan dana sebesar USD 105,1 juta (sekitar Rp1,65 triliun). Fenomena pelepasan aset ini terjadi secara serentak di hampir seluruh penyedia layanan dana investasi yang diperdagangkan di bursa tersebut.
Angka tersebut secara mengejutkan menghapus sekitar 81 persen dari total akumulasi modal masuk yang dikumpulkan investor selama sembilan hari perdagangan sebelumnya. Dengan kata lain, aksi beli yang dilakukan secara bertahap selama dua minggu ludes hanya dalam satu sesi perdagangan saja.
Meskipun demikian, total arus masuk bersih kumulatif ke seluruh dana tersebut masih berada pada angka USD 57,8 miliar (sekitar Rp907 triliun).
Pemicu utama penarikan dana masif ini dinilai bukan berasal dari faktor internal industri kripto, melainkan tekanan ekonomi makro yang meluas. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 30 tahun meroket ke angka 5,7 persen, yang merupakan tingkat tertinggi sejak tahun 2002. Situasi pasar kian tertekan saat harga minyak mentah Brent bertengger di kisaran USD 100 per barel sementara bursa saham mulai tergelincir dari level rekor tertingginya.
Ketegangan geopolitik juga turut memberikan andil bagi ketidakpastian pasar global saat ini. Gangguan keamanan di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia di Timur Tengah, terus meningkat sejak awal Oktober.
Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat memicu inflasi tetap tinggi sehingga mendorong bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve bersikap hawkish. Dalam istilah ekonomi, hawkish merujuk pada kebijakan moneter ketat melalui kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi aset seperti Bitcoin yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga tetap kepada pemiliknya.
Investor besar dan institusi cenderung melakukan kalkulasi ulang saat obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun menawarkan imbal hasil lebih dari 5 persen tanpa risiko fluktuasi harga yang tajam. Logika matematika investasi inilah yang sering kali menggerakkan pasar dalam skala besar.
Risalah pertemuan terbaru dari bank sentral yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan sebagian besar pejabat masih mengharapkan satu lagi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun ini. Namun, pelaku pasar di bursa berjangka tetap skeptis terhadap kemungkinan kenaikan bunga pada bulan Oktober ini.
Berdasarkan data CME Fedwatch, peluang kenaikan suku bunga pada bulan ini hanya berada di angka 19,4 persen. Sementara itu, platform prediksi pasar Myriad memberikan peluang yang lebih rendah, yakni sekitar 17 persen.
Di luar perdagangan bursa Wall Street, harga Bitcoin di pasar spot sempat merosot hingga menyentuh level USD 81.749,83 (sekitar Rp1,28 miliar). Penurunan ini setara dengan koreksi 6 persen dari titik puncak yang sempat dicapai pada awal pekan di angka USD 86.978.
Para pedagang di pasar derivatif menjadi pihak yang paling terdampak oleh volatilitas harga yang terjadi secara mendadak ini. Data dari CoinGlass mencatat adanya likuidasi posisi perdagangan senilai USD 429 juta dalam 24 jam terakhir, dengan mayoritas merupakan posisi long atau taruhan terhadap kenaikan harga.
Bulan Oktober yang biasanya dikenal oleh komunitas kripto sebagai Uptober karena kecenderungan harga yang selalu naik, kini justru memberikan sinyal negatif bagi para investor. Setelah sempat dibuka dengan arus masuk positif pada awal bulan, performa ETF Bitcoin kini justru berada di zona merah dengan total kerugian mencapai USD 163,3 juta.
Kondisi pasar diperkirakan tetap fluktuatif mengingat Federal Reserve dijadwalkan kembali mengadakan pertemuan kebijakan pada akhir Oktober dan Desember mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor













