BRIN Temukan Dapur Magma Anak Krakatau Berada di Kedalaman 26 Kilometer

Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkapkan posisi dapur magma Anak Krakatau berada di kedalaman yang sangat dalam yaitu berkisar antara 7,4 hingga 26,6 kilometer di bawah permukaan bumi. Penemuan lokasi dapur magma Anak Krakatau ini didapatkan berdasarkan analisis petrologi dan geokimia terhadap sampel batuan yang diambil dari kawasan vulkanik tersebut.
"Dari segi mineralogi, relatif mirip antara sampel di Old Krakatau, Krakatau muda, dan Anak, hanya saja mungkin yang relatif membedakan itu di Anak Krakatau, kita temukan olivin," kata Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Aditya Pratama, dalam keterangan tertulis di Jakarta pada Senin, 14 September 2026.
Aditya memaparkan bahwa keberadaan mineral olivin dan perbedaan material magnetik menjadi pembeda utama karakter fisik gunung api aktif di Selat Sunda ini dari para pendahulunya. Temuan tersebut diperoleh setelah tim peneliti menguji 16 sampel batuan yang mewakili berbagai fase erupsi lintas generasi di kompleks vulkanik Krakatau. Pengujian laboratorium ini bertujuan memetakan evolusi magma dan memperkirakan potensi bahaya erupsi di masa mendatang.
Berdasarkan metode pengukuran geotermobarometri, tim peneliti menemukan bahwa tekanan pada reservoir magma tersebut berkisar antara 185 hingga 665 Megapascal. Angka tekanan yang tinggi ini selaras dengan posisi kedalaman sumber magma yang jauh di dalam kerak bumi.
Kondisi struktur geologi ini dinilai sangat berbeda jika dibandingkan dengan sistem magmatik pendahulu Anak Krakatau terdahulu. Data sejarah menunjukkan bahwa dapur magma Krakatau Purba hanya berada pada kedalaman dangkal sekitar 0,6 hingga 2,9 kilometer sebelum fase runtuhnya kaldera purba terjadi. Sementara itu, kantong magma Krakatau Muda yang memicu letusan dahsyat pada tahun 1883 terdeteksi berada pada kedalaman berkisar 1,1 hingga 3,4 kilometer di bawah permukaan laut.
Perbedaan kedalaman ini mengindikasikan bahwa sistem vulkanik Anak Krakatau saat ini masih berada dalam fase pertumbuhan yang sangat awal.
Secara vulkanologi, proses pembentukan kaldera baru atau letusan skala besar harus melewati tiga tahapan panjang yang meliputi fase inkubasi, pematangan, dan fermentasi magma. Kedalaman kantong penyimpanan magma yang berada di atas tujuh kilometer menunjukkan bahwa proses akumulasi material cair bersuhu tinggi tersebut belum mencapai tahap pematangan di dekat permukaan.
Meskipun potensi letusan besar pembentuk kaldera baru tetap ada dalam siklus geologi jangka panjang, ancaman tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Karakteristik suplai magma yang ada sekarang dinilai belum mendukung terjadinya akumulasi tekanan instan yang dapat memicu erupsi katastrofik. "Memang masih sama seperti yang akan dialami oleh ayah-ibunya, terjadi letusan pembentukan kaldera, tapi memang dari segi karakteristik kalau kita lihat sekarang, masih relatif cukup jauh untuk menuju arah itu," ujar Aditya.
Sejak peristiwa runtuhnya sebagian tubuh gunung pada Desember 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda, pemantauan terhadap Anak Krakatau terus ditingkatkan oleh berbagai lembaga riset nasional. Perubahan morfologi yang cepat setelah kejadian tersebut menuntut pemahaman yang lebih mendalam mengenai jalur suplai magma dari perut bumi. Data geofisika terbaru ini memberikan perspektif baru bagi para ahli kegempaan dan vulkanologi dalam membaca sinyal-sinyal seismik yang terekam setiap harinya.
Riset mendalam mengenai karakteristik magma ini menjadi basis ilmiah yang penting untuk memperbarui peta kawasan rawan bencana di sekitar Provinsi Banten dan Lampung. Pemetaan struktur bawah permukaan ini membantu pihak berwenang dalam menyusun strategi evakuasi yang lebih presisi demi meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa apabila aktivitas vulkanik kembali meningkat.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor














