Bukan Tentang Bahagia yang Kau Ciptakan, Tapi Tentang Luka yang Kau Tinggalkan

Kamu pernah merasa kalau semua hal manis yang dia berikan mendadak hilang artinya, cuma gara-gara satu kesalahan besar yang dia buat? Rasanya seperti menelan pil pahit setelah kenyang makan hidangan penutup yang cantik.
Kamu tidak sendirian kok. Banyak dari kita yang merasa kalau kebahagiaan yang dibangun susah payah itu rasanya ringkih sekali. Kita sering terjebak dalam pikiran bahwa kehadiran seseorang yang memberi tawa adalah segalanya, padahal kita lupa satu hal krusial tentang ketulusan.
Jangan Cuma Beri Bahagia
Semua orang memang bisa datang membawa bunga dan janji manis. Mereka bisa bikin kamu merasa jadi manusia paling beruntung di dunia saat keadaanmu lagi baik-baik saja.
Tapi coba ingat lagi, apakah dia orang yang sama saat duniamu sedang runtuh? Kebanyakan orang cuma ingin jadi bagian dari perayaan, tapi mereka mendadak sibuk atau pergi saat kamu butuh sandaran untuk menangis.
Ini ironis sekali, karena kita sering memuja orang yang datang paling cepat. Kita mengabaikan fakta bahwa yang paling penting bukan siapa yang pertama muncul, tapi siapa yang paling terakhir bertahan di sampingmu.
Luka Itu Membunuh Memori
Pernah berpikir tidak, kenapa luka yang dia tinggalkan justru terasa lebih nyata daripada ribuan momen bahagia yang kalian bagi dulu? Sederhana, karena bahagia itu seringkali hanya bonus, sedangkan luka adalah pengkhianatan dari janji yang pernah kalian ikat berdua.
Kebahagiaan yang dia berikan di awal seolah jadi tidak berharga saat dia meninggalkan bekas yang tidak bisa hilang. Kamu jadi bertanya-tanya, apakah kebaikan selama ini cuma topeng untuk menutupi sifat aslinya yang egois?
Mungkin memang benar kalau kita lebih butuh seseorang yang tidak memberi luka daripada seseorang yang rajin membelikan bahagia tapi gampang sekali pergi saat kamu tidak lagi menyenangkan baginya.
Cari Yang Tak Perlu Pergi
Mulai sekarang, cobalah untuk berhenti mengejar definisi bahagia yang cuma ada di permukaan saja. Kamu tidak butuh orang yang datang cuma buat pamer kesempurnaan hubungan di media sosial.
Kamu butuh seseorang yang mengerti bahwa mencintai itu soal tinggal di saat semua hal terasa berat. Kamu butuh kepastian yang tidak perlu dipertanyakan lagi lewat drama atau air mata.
Berhentilah merasa kamu yang kurang karena ditinggalkan. Mungkin kamu cuma sedang diselamatkan dari seseorang yang memang tidak pernah berniat untuk tinggal selamanya. Pelan-pelan saja, tarik napas, kamu akan menemukan orang yang tahu caranya menjaga hatimu tetap utuh tanpa harus menyisakan luka yang membekas.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor








:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5509683/original/007030900_1771743691-Thomas_Muller.jpg)


