Character.AI Ajukan Pailit, Disney Ajukan Tawaran Rp314 Miliar

Aplikasi chatbot populer Character.AI resmi mengajukan status kepailitan di Amerika Serikat menyusul tekanan finansial dan hukum yang mendera perusahaan tersebut. Langkah ini diambil melalui proses Chapter 11 di Pengadilan Kepailitan Delaware, yang memungkinkan perusahaan tetap beroperasi di bawah pengawasan hukum selagi proses restrukturisasi atau penjualan aset berlangsung.
Chapter 11 merupakan mekanisme hukum di AS yang memberikan perlindungan bagi perusahaan untuk mengatur kembali utang atau menjual asetnya demi melunasi kewajiban. Jika tidak ada pembeli yang bersedia mempertahankan layanan, platform ini kemungkinan besar akan ditutup sepenuhnya dalam waktu dekat.
Disney Worldwide Services, anak perusahaan dari The Walt Disney Company, dilaporkan menjadi pihak pertama yang mengajukan penawaran awal atau dikenal sebagai stalking horse bidder. Raksasa media tersebut menawarkan USD 20 juta (sekitar Rp314 miliar) untuk lisensi intelektual non-eksklusif dan layanan transisi dari mantan karyawan Character.AI yang telah direkrut oleh pihak Disney.
Nilai valuasi Character.AI sendiri sempat mencapai USD 1 miliar atau sekitar Rp15,7 triliun pada tiga tahun lalu saat mendapatkan pendanaan besar. Namun, kondisi berbalik drastis setelah perusahaan mencatat kerugian operasional sekitar USD 8 juta hingga USD 9 juta setiap bulannya.
Persoalan kian rumit ketika Character.AI menghadapi serangkaian tuntutan hukum terkait keamanan pengguna di bawah umur. Kasus yang mencuat pada akhir 2024 mengenai dugaan keterlibatan chatbot dengan kesehatan mental remaja memaksa perusahaan mengetatkan aturan bagi pengguna berusia di bawah 18 tahun.
Selain tekanan regulasi, Google sebelumnya telah melakukan langkah akuisisi talenta dengan merekrut kedua pendiri perusahaan, Noam Shazeer dan Daniel De Freitas, pada Agustus 2024. Kesepakatan senilai USD 2,7 miliar itu mencakup lisensi teknologi, yang secara praktis membuat Character.AI kehilangan pengembang kunci dan daya tarik teknisnya.
CEO Character.AI, Collin Adams, menyatakan bahwa perusahaan mengalami tantangan berat dalam mendapatkan investasi baru. Meski sempat meluncurkan fitur baru dan opsi langganan murah, performa finansial yang buruk tetap tidak terbendung hingga akhirnya mengajukan kebangkrutan.
Saat ini, aplikasi tersebut masih dapat diakses oleh pengguna dengan status berlangganan yang tidak berubah. Perusahaan juga menyediakan akses ke sumber bantuan kesehatan mental, mengingat banyak pengguna yang merasa memiliki ikatan emosional kuat dengan karakter virtual yang mereka ciptakan.
Penelitian menunjukkan bahwa kehilangan akses ke pendamping AI sering memicu rasa duka yang nyata bagi penggunanya. Fenomena ini menjadi perhatian khusus saat pengadilan di Delaware mulai memproses lelang aset yang diharapkan selesai pada akhir November atau awal Desember mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor








