Dalam menjalankan program ini, pemerintah mendorong pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Desa Migran EMAS yang melibatkan perangkat desa, purna PMI, keluarga PMI, hingga tokoh masyarakat. Sinergi ini juga didukung dengan pemanfaatan anggaran desa dan kelurahan untuk kegiatan pendataan, sosialisasi, advokasi, hingga penguatan ekonomi. Fachri menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak diukur dari seremonial belaka, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat di akar rumput.
"Keberhasilan kita tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari semakin banyaknya warga yang berangkat secara aman, semakin kuatnya ketahanan keluarga PMI, serta semakin banyaknya purna PMI yang mampu membangun masa depan ekonomi di kampung halamannya. Di situlah negara benar-benar hadir," ujar Fachri.
Ia menambahkan bahwa sebelum terjun ke lapangan, seluruh jajaran harus memiliki satu visi dan strategi agar pendamping desa dapat menjadi agen perubahan yang membawa pesan bahwa pelindungan PMI harus berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Secara komprehensif, Desa Migran EMAS dirancang sebagai gerakan nasional untuk memastikan tidak ada lagi warga yang berangkat dalam ketidaktahuan dan kembali dalam penderitaan. Melalui pendekatan ekosistem yang menghubungkan hulu dan hilir, pemerintah berupaya mengintegrasikan seluruh tahapan, mulai dari persiapan keberangkatan, penguatan keluarga, hingga reintegrasi sosial dan ekonomi bagi purna PMI.
Bagaimana langkah konkret yang akan diambil pemerintah untuk memastikan pemanfaatan anggaran desa dalam program ini berjalan secara transparan dan tepat sasaran?