Dune Rilis Layanan Data Real-Time untuk 200 Bursa Kripto demi Pasar Institusi

Platform analisis blockchain Dune meluncurkan layanan data pasar real-time yang mencakup lebih dari 200 lokasi perdagangan onchain. Inisiatif ini dirancang untuk mengintegrasikan aktivitas pasar terdesentralisasi ke dalam sistem keuangan yang digunakan oleh institusi keuangan tradisional.
Layanan baru ini menyediakan data perdagangan dari 12 blockchain, termasuk Ethereum, Solana, Base, dan XLayer. Data tersebut tersedia hanya satu detik setelah eksekusi transaksi terjadi.
Layanan ini mencakup perdagangan spot di bursa terdesentralisasi serta perdagangan kontrak berjangka perpetual di platform seperti Hyperliquid dan Lighter. Pengguna mendapatkan informasi standar mengenai harga, volume perdagangan, dan detail transaksi secara akurat di berbagai pasar.
Fredrik Haga selaku CEO Dune menyatakan, dana kuantitatif, pembuat pasar, manajer aset, dan meja perdagangan bank menjadi pengguna pertama layanan ini. Meskipun demikian, ia menolak mengungkapkan identitas klien mereka karena terikat perjanjian kerahasiaan.
Perusahaan-perusahaan tersebut memanfaatkan data ini untuk menilai likuiditas, membandingkan harga, dan mengevaluasi strategi sebelum mengalokasikan modal. Haga mencatat bahwa sebagian besar institusi kini memantau pasar onchain karena mereka membutuhkan data ini untuk menentukan harga aset yang tepat.
Pasar saham tokenisasi telah mencatatkan pertumbuhan pesat selama setahun terakhir. Nilai aset yang terdistribusi kini mencapai USD 3,58 miliar, setara dengan sekitar Rp56,6 triliun, naik drastis dari tahun sebelumnya yang hanya berada di angka USD 627 juta, atau sekitar Rp9,9 triliun.
Peningkatan sebesar 470 persen ini mencerminkan tingginya minat terhadap aset yang direpresentasikan dalam bentuk token digital. Namun, pertumbuhan ini bukannya tanpa hambatan berarti.
Fragmentasi likuiditas dan keberatan dari perusahaan publik menjadi tantangan utama yang dihadapi pasar ini. Baru-baru ini, 16 perusahaan besar termasuk Microsoft, Alphabet, dan Goldman Sachs mengajukan keberatan terkait perdagangan saham mereka di platform tokenisasi tertentu.
Keberatan ini muncul setelah adanya pengumuman dari OKXICE, perusahaan patungan antara bursa kripto OKX dan pemilik Bursa Efek New York yaitu Intercontinental Exchange. Mereka berencana meluncurkan platform perdagangan saham tokenisasi pada awal Oktober.
Di sisi lain, pakar industri sempat memperingatkan risiko ketidakefisienan pasar akibat fragmentasi. Perdagangan saham yang sama di berbagai platform blockchain berbeda berpotensi menciptakan perbedaan harga dan meningkatkan risiko slippage atau selisih harga yang merugikan investor.
Ke depannya, integrasi data real-time ini diharapkan mampu menjadi jembatan bagi institusi keuangan untuk masuk lebih dalam ke ekosistem blockchain. Seiring membaiknya likuiditas dan kejelasan regulasi, perdagangan langsung di jaringan blockchain diprediksi akan menjadi standar baru di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor









