Evernorth Siap Melantai di Bursa Nasdaq dengan Mengandalkan Cadangan XRP

Evernorth, sebuah perusahaan perbendaharaan kripto yang berfokus pada aset XRP, kini telah menuntaskan hambatan utama untuk melantai di bursa saham Amerika Serikat.
Para pemegang saham Armada Acquisition Corp. II secara resmi memberikan restu atas merger kedua entitas tersebut dalam pertemuan yang berlangsung pada 30 September lalu. Kesepakatan ini membuka jalan bagi Evernorth untuk mencatatkan sahamnya di Nasdaq mulai pekan depan.
Proses penggabungan usaha ini diperkirakan akan rampung sepenuhnya pada 7 Oktober mendatang. Sehari setelahnya, saham biasa kelas A milik Evernorth akan mulai diperdagangkan dengan kode emiten XRPN.
Total pendanaan yang berhasil dihimpun melalui aksi korporasi ini mencapai angka fantastis, yakni lebih dari USD 1 miliar atau sekitar Rp15,5 triliun. Transaksi tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan kas bruto sebesar USD 300 juta atau sekitar Rp4,6 triliun.
Angka tersebut mencakup USD 225 juta dari penempatan privat, USD 30 juta dalam bentuk pendanaan surat utang konversi, serta USD 48 juta dari hasil perwalian sebelum dikurangi biaya operasional.
Selain pendanaan tunai, para investor turut berkontribusi dalam bentuk aset XRP secara langsung. Saat penutupan transaksi, Evernorth diperkirakan akan memegang sekitar 473 juta XRP dalam neraca keuangannya.
Kepemilikan aset sebesar itu menempatkan perusahaan sebagai entitas perbendaharaan XRP murni yang paling besar di bursa publik. Fenomena ini menunjukkan tren perusahaan publik yang sengaja mengakumulasi aset kripto tunggal agar harga sahamnya berkorelasi dengan nilai pasar aset tersebut.
Asheesh Birla, pendiri sekaligus CEO Evernorth, menyatakan bahwa langkah ini akan memberikan akses bagi investor untuk memiliki eksposur terhadap XRP dengan cara yang lebih transparan dan teregulasi. Pihaknya berencana meningkatkan jumlah XRP per saham melalui strategi imbal hasil dan partisipasi dalam ekosistem blockchain.
Perusahaan ini mendapatkan dukungan dari sejumlah pemain besar di industri kripto seperti Ripple, Pantera Capital, Kraken, SBI Group, hingga GSR. Model bisnis serupa sebelumnya dipopulerkan oleh MicroStrategy yang mengumpulkan Bitcoin sebagai aset utama perusahaan.
Meski terlihat menjanjikan, struktur bisnis ini memiliki risiko inheren yang perlu diperhatikan. Nasib keuangan perusahaan akan sangat bergantung pada fluktuasi harga XRP yang dikenal memiliki volatilitas sangat tajam di pasar global.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












