Harga Batu Bara Melemah di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

Harga batu bara dunia mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa (15/9/2026) di tengah tren kenaikan harga minyak mentah global yang cukup signifikan.
Data Refinitiv mencatat harga batu bara ditutup pada level 146,4 dollar AS per ton, angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 1,45 persen dibandingkan sesi sebelumnya.
Situasi ini menarik perhatian karena biasanya batu bara dan minyak bumi merupakan komoditas yang bersifat substitusi, sehingga pergerakan harga keduanya cenderung searah. Namun, dinamika pasar saat ini menunjukkan korelasi tersebut tidak terjadi.
Kondisi pasar minyak justru menunjukkan performa sebaliknya dengan kenaikan harga yang tajam pada hari yang sama. Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman November menguat hampir 3 persen hingga menyentuh level 108,75 dollar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah jenis WTI mencatatkan kenaikan lebih tinggi sebesar 4 persen menjadi 105,83 dollar AS per barel. Meski energi alternatif seperti minyak mengalami lonjakan harga, batu bara tetap tidak mampu mengimbangi kenaikan tersebut.
Pelemahan harga batu bara termal ini dipicu oleh aktivitas pasar yang lesu di pelabuhan utara China. Para pembeli dilaporkan masih bersikap menahan diri dan enggan menyetujui harga tinggi yang ditawarkan pemasok meskipun terdapat peningkatan minat beli di pasar spot.
Di sisi lain, China telah menunjukkan upaya untuk memulihkan pasokan domestik mereka. Produksi batu bara mentah di China pada Agustus 2026 tercatat mencapai 361,82 juta ton.
Angka tersebut merepresentasikan pertumbuhan sebesar 5,4 persen secara bulanan setelah mengalami penurunan selama dua bulan beruntun. Meski demikian, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, produksi China masih mencatatkan penurunan sebesar 7,7 persen.
Data dari pemerintah setempat menunjukkan rata-rata produksi harian mencapai 11,67 juta ton atau naik dari posisi 11,07 juta ton pada Juli. Namun, angka harian ini secara tahunan masih lebih rendah sekitar 7,38 persen dibandingkan kondisi pada Agustus 2025.
Secara kumulatif sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026, produksi batu bara China berada di angka 3,06 miliar ton. Realisasi ini menunjukkan penurunan sebesar 3,3 persen secara tahunan yang menunjukkan bahwa pasokan energi di China belum sepenuhnya pulih ke level normal.
Keterbatasan pasokan dari tambang domestik sebenarnya sempat menahan laju penurunan harga yang lebih dalam. Pasar tetap berada dalam posisi waspada terhadap setiap kebijakan baru dari China yang mendominasi konsumsi energi global.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor














