Harga Bitcoin Melemah Usai Inflasi AS Melonjak, Potensi Kenaikan Suku Bunga Fed

Harga Bitcoin terkoreksi sebesar 1,5 persen ke level USD 82.142 (sekitar Rp1,29 miliar) pada perdagangan Rabu. Penurunan ini terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan angka yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar, sehingga memicu sentimen negatif di seluruh ekosistem aset kripto.
Ethereum tercatat turun 2,8 persen ke posisi USD 2.440 (sekitar Rp38,4 juta), sementara Solana dan XRP masing-masing melemah sebesar 1,9 persen dan 1,3 persen. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global menyusut 0,7 persen menjadi USD 2,8 triliun (sekitar Rp44.000 triliun).
Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,6 persen pada September. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3,7 persen, angka ini lebih tinggi dari capaian Agustus sebesar 3,4 persen dan melebihi proyeksi ekonom yang mematok angka 3,6 persen.
Kenaikan inflasi ini didorong oleh lonjakan harga bensin sebesar 9,1 persen dalam kurun waktu satu bulan. Kondisi geopolitik yang melibatkan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan harga minyak mentah global bertahan di atas USD 90 per barel selama dua bulan terakhir.
Tingginya harga energi memicu kenaikan biaya produksi serta logistik secara global. Federal Reserve atau The Fed, selaku bank sentral AS, cenderung menaikkan suku bunga acuan untuk meredam daya beli masyarakat saat inflasi berada pada level tinggi.
Pasar kini merespons data tersebut dengan kecemasan tinggi. Menurut data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober melonjak menjadi 44 hingga 49 persen, dibandingkan posisi 22 persen sebelum laporan inflasi dirilis.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun kini berada di level 4,9 persen, sementara tenor 10 tahun mendaki hingga 5,3 persen. Angka ini mendekati level tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
Tingginya imbal hasil obligasi memberikan tekanan langsung terhadap aset kripto. Investor cenderung beralih ke obligasi yang dianggap memiliki risiko lebih rendah dibandingkan Bitcoin yang tidak memberikan imbal hasil tetap.
Kondisi pasar keuangan global turut tertekan oleh situasi ini. Indeks saham S&P 500 terkoreksi 0,6 persen dan Nasdaq turun 0,8 persen pada hari yang sama. Penguatan mata uang dolar AS juga menyedot likuiditas dari pasar aset spekulatif.
Aset kripto memiliki karakteristik volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan instrumen saham. Banyak trader melakukan perdagangan dengan utang atau leverage, sehingga saat harga turun menyentuh batas tertentu, sistem bursa akan melakukan likuidasi otomatis.
Lebih dari USD 281 juta (sekitar Rp4,4 triliun) posisi derivatif kripto telah terlikuidasi dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Sebagian besar posisi yang hangus merupakan transaksi beli atau posisi long pada Bitcoin.
Secara teknikal, Bitcoin saat ini berada di dalam zona emas Fibonacci. Para pelaku pasar masih memantau level dukungan kuat di angka USD 81.603 agar tren jangka panjang tetap terjaga positif.
Fokus investor kini beralih ke pengumuman Indeks Harga Produsen (PPI) yang dijadwalkan rilis pada Kamis waktu setempat. Data ini akan menjadi sinyal tambahan sebelum keputusan suku bunga final dari The Fed di akhir Oktober.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












