Harga Bitcoin Menguat Pasca Data Tenaga Kerja AS yang Melambat

Aset berisiko kembali menjadi primadona setelah laporan data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan perlambatan ekonomi yang signifikan. Kondisi ini memicu spekulasi pasar mengenai langkah bank sentral selanjutnya terkait kebijakan suku bunga.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat penambahan lapangan kerja hanya mencapai 29.000 pada September. Angka ini jauh di bawah proyeksi ekonom sebesar 84.000, ditambah revisi penurunan data dua bulan sebelumnya sebesar 60.000 posisi.
Tingkat pengangguran kini merangkak naik ke posisi 4,2 persen. Pelaku pasar di Wall Street menilai data tersebut memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk menunda kenaikan suku bunga lebih lanjut. Kepastian ini menjadi katalis positif bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini mencatatkan kenaikan tajam setelah data dirilis. Bitcoin kini diperdagangkan pada level USD 86.152 (sekitar Rp1,35 miliar) dengan kenaikan harian sebesar 1,57 persen.
Sebelumnya, Federal Reserve telah menaikkan suku bunga sebesar 0,25 poin pada 16 September dengan kisaran target 3,75 persen hingga 4,00 persen. Suku bunga yang tinggi umumnya membatasi likuiditas investasi, namun Bitcoin justru menunjukkan ketahanan lebih baik dibanding pasar saham tradisional.
Para pejabat bank sentral mulai menunjukkan sikap hati-hati belakangan ini. Presiden New York Fed, John Williams, menyatakan tidak ada urgensi untuk langkah agresif dalam waktu dekat.
Pasar kini merespons data tersebut dengan optimisme tinggi. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober di CME FedWatch turun drastis menjadi hanya 14 persen dari posisi sebelumnya 70 persen.
Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan kini menembus angka USD 3 triliun. Indeks Fear and Greed berada di angka 71 yang mencerminkan dominasi sentimen keserakahan di kalangan investor.
Secara teknikal, Bitcoin sedang menguji level resistensi krusial di harga USD 87.354. Jika mampu melampaui level tersebut, momentum kenaikan diprediksi akan terus berlanjut sepanjang Oktober.
Indikator ADX menunjukkan tren penguatan dengan nilai 41,8 yang menandakan pergerakan naik yang kuat. Selain itu, posisi rata-rata bergerak atau EMA 50 hari yang berada di atas EMA 200 hari mengonfirmasi tren bullish jangka pendek.
Meski demikian, investor perlu mewaspadai indikator RSI yang berada di level 68,1. Angka ini mendekati zona jenuh beli yang biasanya memicu aksi ambil untung oleh para trader jangka pendek.
Ujian makro berikutnya adalah pertemuan Federal Reserve pada 28 Oktober mendatang. Para pelaku pasar akan menanti kebijakan resmi sebelum memutuskan posisi lebih lanjut di tengah volatilitas yang mulai meningkat kembali.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor









