Harga Daging Picanha dan Nasib Politik dalam Pemilu Brasil

Menjelang putaran pertama pemilihan presiden, masyarakat Brasil tidak hanya menyoroti kebijakan keamanan atau lingkungan, tetapi juga persoalan dapur yang mendasar. Picanha, potongan daging sapi premium yang sangat populer di negara tersebut, kini menjadi simbol kemakmuran sekaligus alat ukur ekonomi bagi para pemilih.
Ketika Luiz Inacio Lula da Silva berkampanye empat tahun silam, ia menjanjikan akses yang lebih terjangkau terhadap daging sapi tersebut bagi rakyat kecil. Janji itu kini kembali diuji saat Lula berusaha mempertahankan kursinya di tengah persaingan ketat dengan Flávio Bolsonaro, putra dari mantan presiden sayap kanan Jair Bolsonaro.
Picanha sendiri merupakan bagian daging dari otot bisep femur yang sangat dihargai dalam tradisi barbekyu Brasil. Bagi banyak warga, kemampuan membeli daging ini menjadi indikator apakah ekonomi keluarga mereka sedang membaik atau justru mengalami kemunduran yang nyata.
Data dari bank sentral menunjukkan beban utang rumah tangga yang kini mencapai 26,6 persen dari pendapatan untuk cicilan non-hipotek. Kondisi ini diperparah dengan tingginya suku bunga serta tren judi daring yang membuat banyak keluarga kesulitan mengelola keuangan harian mereka.
Fenomena ini memunculkan istilah vibecession yang menggambarkan situasi ekonomi di mana data resmi tidak menunjukkan resesi, namun masyarakat merasa sangat tertekan oleh biaya hidup. Ekonom dari University of São Paulo, Laura Carvalho, menilai kondisi ini dipicu oleh perbandingan mental masyarakat dengan masa keemasan ekonomi Brasil pada tahun 2000-an.
Berbeda dengan masa lalu, saat ini Brasil menghadapi guncangan harga global akibat pandemi, perang di Ukraina, hingga kebijakan tarif dagang yang menekan pasar domestik. Rakyat cenderung menyalahkan pemerintah yang sedang berkuasa atas setiap kenaikan harga barang pokok di pasar.
Flávio Bolsonaro memanfaatkan sentimen ini dengan mengunggah video berisi keluhan mengenai mahalnya harga kebutuhan pokok di supermarket, termasuk daging picanha. Meskipun ia menjanjikan pemotongan pajak dan belanja negara, detail rencana ekonominya masih minim.
Di sisi lain, Presiden Lula mencoba meredam isu utang nasional dengan memperkenalkan program restrukturisasi utang rumah tangga dan pelarangan taruhan daring. Namun, di lapangan, para pelaku usaha kecil justru merasakan dampak langsung dari daya beli yang melemah.
Arthur Guedes, seorang pedagang daging berusia 37 tahun di Rio de Janeiro, terpaksa beralih fokus menjual daging burger karena warga kini jarang membeli picanha. Ia mengaku belum menentukan pilihan karena merasa belum ada strategi konkret dari para kandidat untuk memulihkan ekonomi.
Sementara itu, Marcella Pirozzi, pemilik usaha barbekyu, mulai membatasi penjualan produk premium di kawasan tertentu karena sepinya pesanan. Ia memutuskan akan memilih Bolsonaro karena mendambakan perubahan dalam arah kebijakan ekonomi negaranya.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








