Pihak pengelola berjanji akan segera merilis panduan teknis bagi pengguna yang harus melakukan penarikan via kontrak bridge. Langkah ini diambil sebagai antisipasi agar tidak ada aset yang tertahan setelah operasional antarmuka Blast dihentikan sepenuhnya.
Blast didirikan oleh Tieshun Roquerre, sosok di balik pasar NFT Blur yang sempat mengguncang dominasi OpenSea pada akhir 2022. Pada masa jayanya, platform ini mampu menarik deposit hingga lebih dari USD 2 miliar atau sekitar Rp31 triliun sebelum peluncuran mainnet pada Februari 2024.
Kejatuhan jaringan ini mencerminkan dinamika yang menantang di pasar aset kripto, terutama bagi protokol yang sangat bergantung pada tren pasar NFT. Data dari DefiLlama menunjukkan bahwa total nilai aset yang dikunci atau Total Value Locked pada Blast telah merosot tajam lebih dari 98 persen sejak puncaknya pada Juni 2024.
Penurunan serupa juga dialami oleh Blur, di mana total nilai yang dikunci di dalamnya kini hanya tersisa sekitar USD 27 juta atau sekitar Rp420 miliar. Angka tersebut mencatatkan kontraksi signifikan dari puncak awal tahun 2024 yang sempat menembus angka USD 200 juta atau sekitar Rp3,1 triliun.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi para pelaku pasar mengenai risiko volatilitas pada platform aset digital. Keberhasilan inovasi teknis tidak selalu menjamin keberlanjutan bisnis jika model ekonomi yang diterapkan tidak mampu mengimbangi biaya operasional infrastruktur yang sangat tinggi.