Jika Aku Sudah Tahu Semua Keburukanmu, Kenapa Hati Ini Masih Memilih Untuk Tetap Bertahan

Rasanya seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan saat aku sadar, kamu bukan orang baik yang selama ini aku bayangkan.
Kamu mungkin merasa sendirian dalam dilema ini, padahal banyak dari kita yang pernah duduk di posisi yang sama. Kamu tidak gila, dan kamu tidak sendirian saat merasa benci pada diri sendiri karena masih menaruh harap pada orang yang jelas-jelas tidak seharusnya ada di sana.
Kamu Tahu Dia Tidak Baik
Kamu melihatnya dengan jelas, bahkan sudah tidak ada lagi filter yang menutupi keburukan itu. Kamu tahu dia mengecewakan, kamu tahu dia mungkin mempermainkan perasaanmu, tapi hati ini tetap saja keras kepala.
Kadang, rasa sakit itu datang bukan karena dia, tapi karena kamu sendiri yang membiarkan dia tetap di sana. Kamu bisa melihat semua celah, semua kesalahan, dan semua perilaku yang bikin kamu menangis tengah malam, tapi anehnya, otakmu tetap saja memutar kenangan manis yang mungkin tidak seberapa.
Bukan karena kamu kurang pintar atau tidak punya harga diri, tapi terkadang manusia memang lebih memilih rasa sakit yang familiar daripada kekosongan yang belum tentu tahu ujungnya. Kamu bertahan bukan karena dia layak diperjuangkan, tapi karena kamu belum siap kehilangan bagian dari dirimu yang sudah terlanjur melekat padanya.
Mungkin Ini Soal Ekspektasi
Cobalah berhenti berpikir bahwa kamu sedang mencintai dia, dan mulailah jujur pada diri sendiri bahwa kamu sebenarnya sedang mencintai versi dirinya yang kamu ciptakan di dalam kepalamu. Kamu tidak sedang memeluk orangnya, kamu sedang memeluk harapanmu bahwa suatu hari nanti dia akan berubah menjadi sosok yang pantas untuk kamu cintai.
Begitu kamu menyadari bahwa kamu hanya mencintai bayang-bayang, rasa sakit itu pelan-pelan akan kehilangan taringnya. Kamu akan mulai melihat bahwa keburukan yang dia tunjukkan bukanlah beban yang harus kamu pikul sendiri, tapi adalah cara semesta menunjukkan kepadamu siapa dia yang sebenarnya.
Kamu Berhak Untuk Bernapas
Ini bukan tentang siapa yang menang atau siapa yang kalah dalam hubungan yang melelahkan ini. Ini tentang memberanikan diri untuk berdiri dan menyadari bahwa kamu berharga, bahkan saat kamu merasa begitu rapuh dan tidak berdaya.
Pelan-pelan saja, tidak perlu buru-buru untuk pergi atau memutuskan segalanya hari ini juga. Cukup tarik napas, akui kalau memang menyakitkan untuk tetap di sana, dan mulai pikirkan dirimu sendiri seperti kamu memikirkan kebahagiaannya selama ini, karena pada akhirnya, kamu adalah satu-satunya orang yang harus menemani dirimu sampai akhir.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor











