Kalau Kamu Benar-benar Ingin Memiliki Seseorang, Kamu Memang Harus Berjuang Tanpa Harus Mengemis

Kamu pernah nggak sih, duduk diam saja sambil berharap orang yang kamu taksir tiba-tiba sadar kalau kamu itu ada? Rasanya kayak nunggu bus yang nggak pernah datang di halte yang salah.
Perasaan kayak gitu sebenarnya wajar banget kok. Kita semua pernah ngerasa segan buat gerak duluan, karena takut dicap agresif atau malah takut kalau ternyata usahanya cuma bertepuk sebelah tangan.
Jangan Cuma Bermimpi Saja
Kamu nggak akan bisa punya hubungan sama dia kalau kamu cuma berani main kode di media sosial. Dia itu manusia, bukan cenayang yang bisa baca isi hatimu lewat postingan galau.
Berjuang itu bukan berarti harus bombastis atau bikin heboh di depan umum. Kadang, perjuangan itu cuma soal keberanian kamu buat menyapa duluan, bertanya kabarnya, atau sekadar menunjukkan kalau kamu memang tertarik mengenal dia lebih jauh.
Dia Nggak Akan Luluh Sendiri
Orang yang kamu cintai itu belum tentu punya perasaan yang sama sejak awal. Dia butuh alasan untuk melirik kamu, dan alasan itu datang dari cara kamu menunjukkan perhatian yang tulus.
Kalau kamu cuma nunggu keajaiban jatuh dari langit, ya siap-siap saja melihat dia jatuh ke pelukan orang lain. Proses meluluhkan hati itu butuh niat, bukan cuma sekadar keinginan di dalam kepala saja.
Ada Batas Antara Usaha dan Mengemis
Tolong ingat ini baik-baik, jangan pernah biarkan harga dirimu luntur cuma karena kamu pengen banget dia ada di sampingmu. Kalau kamu sampai harus memohon atau merendahkan martabat sendiri, itu sudah bukan lagi namanya perjuangan.
Kehilangan dia mungkin memang sakit, tapi kehilangan harga diri itu jauh lebih memalukan dan berbekas buruk. Seseorang yang benar-benar pantas untuk kamu perjuangkan, pasti akan menghargai usahamu tanpa harus melihatmu mengemis perhatian.
Berjuanglah Dengan Cara yang Elegan
Jika nanti hasil akhirnya tidak sesuai harapan, setidaknya kamu sudah mencoba dengan cara yang terhormat. Kamu akan dikenang sebagai orang yang berani, bukan sebagai orang yang memaksakan kehendak.
Lagipula, kalau dia memang bukan untukmu, setidaknya kamu sudah menang dari rasa takutmu sendiri. Itu sudah pencapaian yang cukup besar untuk membuatmu merasa bangga pada diri sendiri, bukan malah merasa kurang.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor













