Langsung ke konten
beritana

Kenapa Kita Selalu Jatuh Cinta Paling Dalam Pada Orang yang Justru Tidak Bisa Dimiliki

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaAsmara
Kenapa Kita Selalu Jatuh Cinta Paling Dalam Pada Orang yang Justru Tidak Bisa Dimiliki
Kenapa Kita Selalu Jatuh Cinta Paling Dalam Pada Orang yang Justru Tidak Bisa Dimiliki

Ada kalanya kamu cuma bisa menatap layar ponsel, menunggu notifikasi yang tahu-tahu tidak pernah muncul.

Kamu merasa sendirian di tengah keramaian, bertanya-tanya kenapa hati ini keras kepala sekali memilih orang yang tepat untuk membuatmu hancur. Rasanya seperti ada lubang di dada yang tidak bisa ditambal, meski kamu sudah mencoba berbagai cara untuk menutupnya dengan kesibukan atau teman baru.

Tenang, kamu tidak sendirian merasakannya. Hampir setiap orang pernah berada di titik ini, di mana logika dan perasaan sedang perang hebat dan tentu saja, perasaan selalu menang dengan cara yang paling menyebalkan.

Kamu Memilih Orang yang Salah

Kita sering terjebak dalam ilusi bahwa semakin sulit seseorang untuk digapai, semakin berharga pula sosok itu untuk diperjuangkan. Kamu berpikir bahwa rasa sakit ini adalah tanda bahwa cinta kalian sangat besar, padahal mungkin itu cuma tanda bahwa kamu sedang memaksakan diri masuk ke pintu yang memang dikunci.

Bukan karena kamu tidak cukup baik atau kurang berusaha, tapi terkadang kamu memang jatuh cinta pada seseorang yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Dia tidak bisa memberimu apa yang kamu butuhkan, bukan karena dia jahat, tapi karena memang kapasitas hatinya tidak sebesar ekspektasi yang kamu bangun di kepala.

Ini Bukan Soal Dia Lagi

Sekarang coba tarik napas sejenak dan lihat ke dalam diri sendiri. Mungkin yang sebenarnya kamu kejar bukanlah orangnya, melainkan perasaan saat kamu merasa dibutuhkan atau rasa penasaran yang tidak pernah terpuaskan olehnya.

Kadang kita jatuh cinta pada orang yang tidak bisa dimiliki karena itu adalah cara paling aman untuk tidak perlu menghadapi kenyataan hubungan yang sesungguhnya. Kamu bisa tetap memujanya dari jauh tanpa harus melihat kebiasaan buruknya atau fakta bahwa dia memang tidak pernah benar-benar ada untukmu.

Belajarlah Lepas Perlahan Saja

Tidak ada gunanya memaki diri sendiri karena pernah sebodoh itu memberikan hati. Memaafkan diri sendiri jauh lebih penting daripada menunggu dia meminta maaf, karena luka itu mungkin akan tetap membekas sedikit, tapi setidaknya dia tidak lagi mengendalikan napasmu.

Pelan-pelan, mulailah berterima kasih pada dirimu sendiri yang sudah berani mencintai seberani itu, meski hasilnya tidak manis. Kamu akan baik-baik saja, bahkan mungkin akan bertemu seseorang yang tidak perlu dikejar, seseorang yang justru memilih untuk menetap tepat di sampingmu.


Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update