Konflik Houthi dan Pemerintah Yaman di Laut Merah Tewaskan 81 Orang

Sebanyak 81 orang dilaporkan tewas dalam pertempuran sengit antara milisi Houthi dan pasukan pemerintah Yaman di sekitar wilayah perbatasan Laut Merah pada Jumat, 4 September 2026.
Eskalasi kekerasan ini dipicu oleh serangan darat, roket, serta penggunaan pesawat nirawak yang diluncurkan pihak Houthi pada Kamis sebelumnya. Target utama mereka adalah menguasai Selat Bab Al-Mandeb, sebuah jalur logistik vital yang menjadi pintu masuk selatan Laut Merah.
Seorang pejabat militer di Aden mengungkapkan bahwa serangan tersebut ditujukan untuk memutus akses ke kota pelabuhan Mokha yang saat ini masih berada dalam kendali pemerintah. Milisi Houthi dilaporkan telah berhasil menduduki sejumlah titik ketinggian strategis yang menghadap ke arah posisi pasukan pemerintah di dekat kota pesisir Khokha dan Taiz.
Data dari otoritas militer mencatat 24 tentara pemerintah gugur di pesisir, sementara 15 lainnya tewas di wilayah Taiz. Di pihak lawan, sumber medis menyatakan bahwa sedikitnya 42 anggota milisi Houthi tewas akibat kontak senjata tersebut.
Posisi geografis yang dikuasai Houthi saat ini memberikan keunggulan taktis untuk membidik kapal-kapal yang melintas di jalur perairan tersebut. Guna menghadapi ancaman ini, pemerintah Yaman telah mengerahkan pasukan tambahan dari Aden menuju Taiz atas instruksi koalisi pimpinan Arab Saudi.
Pentingnya kendali atas Selat Bab Al-Mandeb melonjak drastis setelah Iran mengambil kebijakan untuk memblokade Selat Hormuz. Kondisi ini menempatkan rute laut tersebut sebagai jalur alternatif utama bagi ekspor minyak dunia milik Arab Saudi.
Ketegangan ini bukan merupakan peristiwa tunggal, melainkan dampak dari rapuhnya gencatan senjata yang telah runtuh sejak Juli 2026. Situasi memburuk setelah adanya aktivitas penerbangan pesawat asal Iran menuju Sanaa yang kemudian diikuti oleh pengumuman blokade maritim oleh pihak Houthi.
Perang saudara di Yaman sendiri telah berlangsung panjang sejak akhir 2014, tepatnya ketika ibu kota Sanaa jatuh ke tangan Houthi. Pemerintah yang diakui secara internasional terpaksa memindahkan pusat administrasinya ke Aden, sementara koalisi pimpinan Arab Saudi terus berupaya memberikan dukungan militer sejak 2015.
Gangguan terhadap jalur pelayaran internasional di Laut Merah kini dipandang sebagai upaya tekanan politik oleh Houthi yang berdampak pada rantai pasok global. Situasi ini memicu kekhawatiran serius di tingkat internasional terkait potensi krisis energi yang lebih luas.
Perebutan pengaruh di sekitar pesisir Laut Merah tidak hanya mencerminkan dinamika konflik domestik Yaman. Hal ini menjadi representasi dari rivalitas regional yang terus memanas, di mana jalur transit energi dunia menjadi sasaran strategis yang diperebutkan oleh pihak-pihak yang bertikai.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor








