Rencana Kenaikan Suku Bunga The Fed Dinilai Keliru Saat Harga Bitcoin Rontok

Rencana kenaikan suku bunga The Fed dinilai oleh sejumlah pengamat pasar sebagai langkah keliru yang berisiko memperburuk kondisi ekonomi global.
Kekhawatiran ini merebak setelah harga bitcoin, emas, dan indeks saham global dilaporkan kompak mengalami penurunan signifikan secara bersamaan. Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi ketidakpastian baru menjelang pertemuan penting bank sentral Amerika Serikat tersebut.
Kebijakan memperketat likuiditas pada saat pasar sedang tertekan dianggap dapat memicu resesi yang lebih dalam. Sejumlah analis menilai bahwa inflasi yang mulai mereda seharusnya menjadi alasan kuat bagi otoritas moneter untuk menahan pengetatan tersebut. Jika langkah ini tetap dipaksakan, pertumbuhan ekonomi global terancam stagnan hingga akhir tahun.
"Menaikkan suku bunga di tengah kepanikan pasar adalah resep untuk menciptakan kepanikan baru yang lebih masif," ujar analis pasar senior dari Capital Group, Marcus Vance.
Bitcoin terpantau anjlok mendekati level USD 55.000 (sekitar Rp891 juta) per koin, sementara emas yang biasanya menjadi aset aman juga ikut melemah akibat penguatan dollar AS. Likuiditas yang mengetat membuat investor lebih memilih memegang uang tunai daripada aset berisiko atau komoditas.
Indeks saham di bursa Wall Street, seperti S&P 500 dan Nasdaq, juga tidak luput dari tekanan jual yang cukup masif. Penurunan ini mencerminkan kecemasan korporasi terhadap membubungnya biaya pinjaman yang dapat menggerus margin keuntungan mereka. Banyak perusahaan teknologi raksasa mulai merevisi proyeksi pendapatan mereka untuk kuartal mendatang akibat situasi ini.
Sentimen negatif dari Washington ini diproyeksikan akan segera merembet ke pasar keuangan dalam negeri Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berpotensi mengalami tekanan jual jika aliran modal asing keluar secara masif menuju pasar Amerika Serikat. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi oleh para pelaku usaha lokal.
Bank Indonesia kemungkinan besar harus merumuskan strategi intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi domestik. Langkah ini menjadi kunci untuk menahan dampak rambatan dari kebijakan moneter global yang agresif tersebut. Para pelaku pasar domestik kini disarankan untuk lebih selektif dalam mengelola portofolio investasi mereka selama periode fluktuasi tinggi ini.
Beberapa lembaga keuangan internasional bahkan mulai memperingatkan adanya potensi pelarian modal besar-besaran dari negara berkembang jika suku bunga terus melambung.
Negara-negara dengan utang luar negeri yang tinggi dalam denominasi dollar AS akan menghadapi beban pembayaran yang jauh lebih berat. Kondisi ini dapat memicu krisis likuiditas baru di beberapa kawasan Asia dan Amerika Latin.
Data inflasi terbaru yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat sebenarnya menunjukkan tren penurunan yang cukup stabil. Hal tersebut memperkuat argumen bahwa kenaikan biaya pinjaman tidak lagi mendesak untuk dilakukan saat ini. Para pengamat mendesak agar bank sentral lebih sensitif terhadap sinyal pelemahan yang dikirimkan oleh pasar riil.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor











