Kekeringan Sungai Kapuas Hambat Distribusi Batu Bara di Kalimantan

Fenomena kemarau panjang yang dipicu oleh El Nino menyebabkan debit air di Sungai Kapuas dan sejumlah sungai utama di Kalimantan menyusut drastis sejak empat bulan terakhir.
Kondisi alam ini berdampak langsung pada terhentinya mobilisasi kapal tongkang pengangkut batu bara yang tidak dapat melintasi alur sungai akibat kedalaman air yang menurun. Banyak kapal dilaporkan tertahan di tengah sungai hingga mencapai waktu tiga bulan.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, Gita Mahyarani, menjelaskan bahwa penurunan muka air sungai membatasi kapasitas muatan kapal tongkang yang beroperasi di wilayah tersebut. Kapal tidak dapat dimaksimalkan muatannya agar tidak kandas di dasar sungai yang kini tampak menyembul ke permukaan.
Penumpukan stok batu bara pun kini tidak terelakkan di area tambang maupun di pelabuhan muat karena jalur distribusi terputus. Pihak asosiasi menegaskan bahwa kendala logistik ini memang memengaruhi sentimen pasar, namun bukan satu-satunya faktor yang menentukan fluktuasi harga komoditas global.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung, membantah adanya tuduhan bahwa terhambatnya pengiriman batu bara disebabkan oleh pembatasan kuota produksi dari pemerintah. Ia memastikan bahwa kendala tersebut murni merupakan persoalan teknis di lapangan akibat hilangnya volume air sungai.
Yuliot menambahkan bahwa dirinya telah melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi di Kalimantan guna memastikan bahwa operasional terhenti semata-mata karena kapal tidak mampu berlayar pada jalur yang mengering. Kondisi tersebut memaksa pengusaha untuk menunggu hingga debit air kembali normal.
Di sisi lain, menyusutnya air Sungai Kapuas di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, menciptakan pemandangan yang tidak biasa bagi warga lokal. Dasar sungai yang tadinya tertutup air kini berubah menjadi hamparan pasir luas.
Area tersebut justru kini dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai lokasi rekreasi dadakan untuk berkumpul bersama keluarga atau menikmati matahari terbenam. Fenomena sosial ini menjadi kontras dengan tekanan ekonomi yang dihadapi oleh para pelaku usaha tambang di jalur logistik tersebut.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai kapan kondisi hidrologi sungai di Kalimantan akan kembali normal. Selama hujan belum turun secara merata, mobilitas kapal tongkang pengangkut komoditas utama tersebut diprediksi masih akan mengalami gangguan teknis yang signifikan.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor








