
Para pemimpin negara anggota Uni Eropa berkumpul di Brussels pada Kamis untuk memulai rangkaian pertemuan selama dua hari yang berfokus pada tantangan ekonomi mendesak.
Salah satu agenda utama adalah mencari solusi atas defisit perdagangan yang membengkak dengan China. Angka defisit ini mencapai 360 miliar euro atau sekitar Rp6.100 triliun pada tahun lalu dan diprediksi akan kembali memecahkan rekor pada tahun ini.
Uni Eropa menilai praktik ekonomi China tidak adil karena subsidi pemerintah mereka menciptakan persaingan yang tidak seimbang bagi industri di Eropa. Kelompok industri lokal melaporkan bahwa lonjakan impor dari China memicu penutupan sejumlah pabrik di berbagai wilayah Eropa. Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan mendesak agar segera diberlakukan langkah baru untuk menangkal distorsi pasar tersebut.
Selain isu China, para pemimpin blok ini akan menghadapi perdebatan sengit mengenai anggaran tujuh tahunan untuk periode 2028 hingga 2034. Negosiasi ini biasanya melibatkan ketegangan antara negara-negara kontributor bersih atau penyumbang dana besar dengan negara yang lebih bergantung pada dana bantuan Uni Eropa.
Perdebatan anggaran tersebut memerlukan persetujuan bulat dari seluruh anggota, sebuah syarat yang sering kali menyulitkan proses pengambilan keputusan. Tekanan untuk menyelesaikan anggaran ini semakin meningkat menjelang pemilu di beberapa negara anggota tahun depan yang berpotensi mengubah peta politik internal.
Pada hari Jumat, pembahasan akan bergeser ke sektor keamanan dengan fokus pada dukungan berkelanjutan bagi Ukraina di tengah invasi Rusia yang masih terus berlangsung. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dijadwalkan hadir langsung untuk meminta tambahan bantuan dari blok tersebut.
Dukungan dari Eropa kini dinilai lebih vital bagi Ukraina. Situasi ini terjadi di tengah kebijakan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang menunjukkan sikap ambivalen terhadap konflik tersebut, termasuk adanya kesepakatan impor solar Rusia meski terdapat sanksi internasional.
Selain masalah geopolitik, para pemimpin juga menyoroti lonjakan harga energi sebagai faktor utama yang menekan daya saing ekonomi Uni Eropa. Meski pertemuan ini tidak diperkirakan menghasilkan terobosan besar, mereka berharap dapat mencapai kompromi setidaknya pada akhir tahun ini agar stabilitas ekonomi blok tetap terjaga.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor