Likuiditas Stablecoin di Amerika Latin Bergantung pada Sedikit Penyedia Utama

Ekosistem stablecoin di Amerika Latin saat ini menghadapi risiko ketergantungan pada kelompok kecil penyedia likuiditas yang dapat mengganggu akses pengguna terhadap dana mereka. Kondisi ini muncul di tengah tingginya adopsi aset kripto sebagai alat pembayaran lintas batas di kawasan tersebut.
Sebuah laporan terbaru dari Varys Capital dan Verda Ventures mengungkapkan fakta bahwa dari 494 perusahaan yang dianalisis, hanya 16 entitas yang bergerak sebagai penyedia likuiditas grosir, manajemen kas perusahaan, dan kredit. Peneliti memperingatkan bahwa kerapuhan sistem terkonsentrasi pada lapisan tertipis ini.
Mitra di Verda Ventures, Amit Chu, menjelaskan bahwa banyak pihak yang menjual likuiditas namun hanya segelintir spesialis yang benar-benar menggerakkan pasar. Data publik tidak memperlihatkan secara jelas berapa banyak perusahaan yang menanggung risiko mata uang sendiri dan berapa banyak yang mengalihkannya ke meja perdagangan atau bursa yang sama.
Besar kemungkinan sebagian besar pelaku pasar bergantung pada penyedia yang sama, yang menjadi titik lemah dalam struktur keuangan tersebut. Jika salah satu penyedia utama kehilangan akses perbankan, pengguna bisa terjebak dengan stablecoin yang sulit dicairkan ke mata uang lokal.
Stablecoin kini memainkan peran vital dalam ekonomi kripto di Amerika Latin. Data dari Chainalysis pada September menunjukkan bahwa stablecoin mencakup 32,1 persen nilai kripto lintas batas, 22,1 persen aktivitas domestik antar pengguna, serta 17,6 persen saldo dompet pribadi di wilayah tersebut.
Negara-negara dengan ketidakstabilan moneter cenderung menunjukkan pertumbuhan adopsi yang paling cepat. Fenomena ini didorong oleh kebutuhan akan alat pembayaran yang lebih murah dan efisien dibandingkan sistem perbankan tradisional yang sering kali terfragmentasi.
Chu menyoroti bahwa gangguan pada satu penyedia besar dapat membuat selisih harga atau spread melebar secara signifikan. Proses pencairan dana ke rekening bank lokal bisa melambat atau bahkan terhenti total, yang mengakibatkan dana milik pengguna tertahan di meja perdagangan yang mengalami kegagalan.
Meski demikian, laporan tersebut tidak memberikan angka pangsa pasar yang pasti karena basis data Stablescape tidak melacak volume transaksi secara mendetail. Ada pula bursa dan perusahaan pembayaran lain yang turut menyediakan likuiditas, namun Chu meyakini mereka tetap bergantung pada infrastruktur yang serupa.
Pemberian lisensi resmi dipandang sebagai solusi utama untuk mengurangi konsentrasi pasar melalui aturan yang lebih jelas bagi perbankan. Selain itu, pengembangan stablecoin berbasis mata uang lokal dapat memfasilitasi lebih banyak pelaku pasar untuk menyelesaikan transaksi secara langsung pada rantai blok atau onchain.
Chu juga menekankan bahwa jumlah spesialis yang sedikit tidak selalu berarti adanya masalah sistemik. Pasar valuta asing konvensional pun memiliki dealer yang jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah perusahaan yang melayani nasabah ritel secara langsung.
Redundansi modal dan hubungan perbankan yang terpisah menjadi faktor penentu utama ketahanan sistem. Setiap mata uang utama harus didukung oleh beberapa meja perdagangan independen agar setiap dompet memiliki fleksibilitas untuk memilih jalur transaksi melalui berbagai penyedia yang berbeda.
Amerika Latin tetap dianggap sebagai lahan pertumbuhan besar, terutama untuk bisnis yang fokus pada pembayaran lintas batas. Tingginya biaya transfer antarnegara terus menciptakan permintaan yang kuat bagi layanan yang mempermudah pergerakan modal bagi individu maupun bisnis di kawasan tersebut.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor














