Membongkar Realitas Implementasi AI di Perusahaan: Pelajaran dari Anthropic, Gamma, dan Clay

Implementasi teknologi kecerdasan buatan (AI) di lingkungan perusahaan seringkali terlihat menjanjikan dalam demo singkat. Namun, realitas adopsi AI yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah nyata jauh lebih kompleks daripada presentasi lima menit. Begitu produk AI digunakan, pelanggan akan mengintegrasikannya ke dalam alur kerja yang tak terduga, menuntut keandalan tinggi, dan dengan cepat menentukan apakah solusi tersebut benar-benar memecahkan masalah signifikan atau hanya berakhir sebagai eksperimen lain yang ditinggalkan.
Di TechCrunch Disrupt 2026, yang akan berlangsung di San Francisco, para pemimpin dari Anthropic, Gamma, dan Clay akan berbagi panggung di AI Stage. Mereka akan membahas topik “Apa yang Dilihat Anthropic Saat Perusahaan Mengimplementasikan Claude,” sebuah sesi yang menjanjikan wawasan mendalam tentang dua sisi utama penerapan AI. Diskusi ini akan memadukan pola-pola umum yang diamati Anthropic di berbagai implementasi perusahaan dengan pengalaman langsung para pendiri yang membangun produk AI yang benar-benar digunakan oleh pengguna.
Sesi ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai tantangan dan peluang implementasi AI, menawarkan sudut pandang yang berbeda namun saling melengkapi.
Sebagian besar diskusi mengenai AI perusahaan kerap terfokus pada potensi yang bisa dicapai. Namun, Cat de Jong, Kepala AI Terapan di Anthropic, membawa perspektif yang lebih menarik: apa yang sebenarnya terjadi setelah AI diluncurkan dan mulai digunakan.
De Jong secara langsung mendampingi berbagai perusahaan dalam mengintegrasikan Claude, model bahasa besar mereka, ke dalam alur kerja yang sangat penting. Dalam presentasinya di Disrupt, ia akan membedah faktor-faktor keberhasilan implementasi, penyebab kegagalan, serta membedakan organisasi yang berhasil meraih nilai nyata dari AI dibandingkan yang masih terjebak dalam fase uji coba setelah 18 bulan.
Bagi pelaku bisnis yang menyediakan solusi AI untuk korporasi, pola-pola ini sangatlah krusial. Pengalaman de Jong menawarkan pandangan langsung mengenai transformasi yang terjadi ketika AI beralih dari fase eksperimen menuju alur kerja inti, serta alasan di balik keberhasilan beberapa organisasi dalam meluncurkan AI ke tahap produksi, sementara yang lain kesulitan.
Wawasan ini menjadi kunci untuk memahami perbedaan antara proyek percontohan AI dan implementasi yang sukses masuk ke tahap produksi.
Jika Anthropic mampu mengidentifikasi pola-pola implementasi AI secara makro di berbagai perusahaan, Grant Lee, salah satu pendiri dan CEO Gamma, akan menyajikan sudut pandang berbeda. Ia akan berbagi pengalaman dari dalam sebuah perusahaan yang membangun produk AI dan berjuang keras agar produk tersebut benar-benar digunakan oleh penggunanya.
Gamma telah mengembangkan platform bertenaga AI-nya dari sekadar alternatif perangkat lunak presentasi tradisional menjadi alat komunikasi visual yang lebih luas. Pada bulan Maret lalu, TechCrunch melaporkan bahwa perusahaan ini sedang mendekati angka 100 juta pengguna, seiring dengan perluasan alat AI mereka ke dalam aset pemasaran dan berbagai bentuk konten visual lainnya.
Tingkat adopsi yang masif tersebut memberikan Lee posisi strategis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inti dalam sesi ini: Apa yang membuat produk AI cukup bermanfaat sehingga pelanggan terus menggunakannya? Perubahan apa yang terjadi ketika orang mulai menggunakan AI dengan cara yang tidak diantisipasi pengembang? Bagaimana kemampuan AI yang canggih dapat diubah menjadi produk yang benar-benar memecahkan masalah yang dihadapi pengguna?
Membangun produk AI adalah satu hal, tetapi membuat orang benar-benar menjadikannya bagian dari alur kerja sehari-hari adalah tantangan yang berbeda.
Kareem Amin, salah satu pendiri dan CEO Clay, akan melengkapi diskusi dengan perspektif seorang pendiri yang mengintegrasikan AI ke dalam cara perusahaan menemukan dan menjangkau pelanggan. Clay sendiri menyediakan infrastruktur penting untuk menarik data, menjalankan alur kerja berbasis agen, serta meluncurkan strategi go-to-market (GTM).
Relevansi pandangan Amin sangat tinggi, mengingat pada Januari lalu, TechCrunch melaporkan bahwa Clay adalah salah satu aplikasi peluncuran yang terintegrasi langsung dengan Claude, saat Anthropic memperkenalkan alat kerja interaktif di dalam antarmuka Claude.
Hal ini menempatkan Amin pada posisi sentral untuk menggali pertanyaan-pertanyaan yang akan dibahas dalam sesi ini: di mana AI benar-benar memberikan manfaat, bagaimana AI dapat beradaptasi dengan alur kerja yang sudah ada, serta apa konsekuensinya ketika pelanggan mulai bergantung pada teknologi tersebut.
Kombinasi pandangan dari de Jong, Lee, dan Amin akan memberikan gambaran multidimensional mengenai transisi adopsi AI ini. Anthropic menawarkan kemampuan mengidentifikasi pola-pola besar di seluruh implementasi perusahaan, sementara Gamma dan Clay akan menguji pola-pola tersebut berdasarkan pengalaman nyata pelanggan yang menggunakan produk AI mereka.
Untuk memahami adopsi AI dari dua sisi, baik sebagai penyedia infrastruktur maupun pembangun produk, para peserta diundang untuk hadir dalam diskusi ini.
Sebuah demonstrasi yang mengesankan memang dapat menunjukkan potensi besar AI. Namun, ujian sesungguhnya datang ketika pelanggan mulai menggantungkan pekerjaan mereka pada teknologi tersebut. Di ajang Disrupt ini, Anthropic akan menyajikan pandangan menyeluruh dari berbagai implementasi AI di perusahaan, sementara Gamma dan Clay akan berbagi perspektif para pendiri dalam membangun produk AI yang benar-benar digunakan dan dicintai pengguna.
TechCrunch Disrupt 2026 akan berlangsung pada 13-15 Oktober di Moscone West, San Francisco. Acara ini akan mempertemukan lebih dari 10.000 pendiri, investor, operator, dan pemimpin teknologi untuk mengikuti 200 lebih sesi di enam panggung industri berbeda, lokakarya, dan diskusi panel. Lebih dari 250 pembicara terkemuka akan hadir, didukung oleh lebih dari 300 startup yang memamerkan inovasi, serta berbagai kesempatan matchmaking dan networking.
Jangan lewatkan kesempatan untuk mendengarkan langsung apa yang telah dipelajari oleh Anthropic, Gamma, dan Clay dalam mengubah kemampuan AI yang canggih menjadi produk yang benar-benar berguna bagi kehidupan sehari-hari dan operasional bisnis.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)














